RI Tetap Berharap Jepang Tak Naikkan Bunga Utang
Jumat, 23 Des 2005 14:41 WIB
Jakarta -
Pemerintah Indonesia tetap berharap Jepang tidak menaikkan suku bunga pinjaman. Menko Perekonomian Boediono mengaku, Indonesia saat ini butuh dana dengan bunga murah. "Saya kira kok kita sepertinya harus bertahan. Menurut saya, kita memerlukan dana dengan bunga murah dalam suasana seperti ini," ujar Boediono di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (23/12/2005).Jepang berniat menaikkan suku bunga pinjaman dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen. Sementara jumlah dana pendamping dinaikkan dari 15 persen menjadi 25 persen. Keputusan itu diambil seiring naiknya peringkat Indonesia dari low income country menjadi lower middle income country.Besaran dana pendamping itu juga dinilai memberatkan. "Katanya dari 15 persen jadi 25 persen. Ini juga yang harusnya kita bertahan juga," tandasnya. Boediono mengaku, pemerintah akan melakukan negosiasi dengan Jepang mengingat kenaikan itu cukup membebankan APBN. Namun sayangnya, Boediono mengaku belum tahu persis berapa beban yang harus ditanggung pemerintah karena kenaikan itu.Mengenai tingkat bunga yang bisa diterima oleh Indonesia, Boediono menyerahkannya pada Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Menkeu karena dua orang ini dinilai tahu persis posisi utang Indonesia.Utang Indonesia kepada Jepang mencapai 50 persen dari total utang luar negeri sebesar Rp 600 triliun. Sementara utang dalam negeri besarnya mencapai sekitar Rp 700 triliun.
(qom/)










































