BLT Dana Desa Sudah Mengucur Hampir Rp 7 Triliun

Achmad Syauqi - detikFinance
Sabtu, 13 Jun 2020 16:16 WIB
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menggelar raker dengan Komite I DPD RI, Selasa (26/11/2019). Ini adalah raker perdana Abdul Halim Iskandar dengan DPD.
Foto: Lamhot Aritonang: Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar
Klaten -

Bantuan langsung tunai (BLT) Dana Desa 2020 yang terserap masyarakat terdampak pandemi Corona atau COVID-19 hampir mencapai Rp 7 Triliun. Dana itu dibagikan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

" BLT dana desa yang sudah tersalurkan seluruh Indonesia sudah hampir Rp 7 Triliun. Dengan hampir 7 juta KPM yang menerima," jelas Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar di sela sidak ke Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Sabtu (13/6/2020) siang.

Abdul Halim mengatakan penyaluran dana desa sebesar itu sudah mencapai 85 persen lebih. Penyaluran BLT dana desa tahap I sudah selesai.

" Saya kira sudah selesai semua (tahap I) tinggal nanti urusan 3 bulan ke dua. Tinggal nanti kita keluarkan regulasi untuk penggunaan selanjutnya yang nilainya turun dari Rp 600.000 jadi Rp 300.000," lanjut Abdul Halim.

Selain itu, Abdul Halim meminta semua desa melakukan proteksi diri berkaitan dengan COVID dengan baik dan menggunakan pendekatan yang berlaku di masyarakat.

" Selalu saya katakan, membangun desa apapun bentuknya tidak boleh keluar dari akar budaya masyarakat desa. Kekayaan kita ada disitu," sambung Abdul Halim.


Berkaitan kunjungan, Abdul Halim menjelaskan, kegiatan kunjungan itu mendadak untuk mengecek beberapa hal. Diantaranya mengecek penggunaan dana desa untuk penanganan COVID dan BLT.

Sebab ada peringatan dari FAO akan terjadi kekeringan ke depan sehingga terjadi kekurangan pangan. Semua negara produsen akan memproteksi diri.

" Negara akan memproteksi untuk kebutuhan lokal dulu sehingga ini momentum bagi kita untuk mandiri, tidak harus mendatangkan dari Vietnam, Thailand dan lainnya," imbuh Abdul Halim.

Abdul Halim menambahkan, dari pantauan menuju new normal desa lebih siap dari kota karena pantauan antara tetangga lebih erat. Termasuk pola hidup bersih, interaksi sosial dan kemandirian pangan.

" Kalau kebersihan, tatanan sosial dan ketahanan pangan, tiga hal ini berjalan di desa dengan maksimal, maka selesai. ODP di desa itu banyak perantau tapi pulang diisolasi dan perangkat desa memantau. Tetapi bicara PDP sampai pasien positif di desa itu sedikit," terang Abdul Halim.

Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2