Banyak Pengangguran, 30% Warga AS Nggak Bisa Bayar Cicilan Rumah

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2020 10:21 WIB
Aksi demo melanda negara bagian AS, Minnesota. Aksi demo itu memprotes aturan tetap di rumah, yang diterapkan karena pandemi virus Corona.
Foto: AP/Evan Frost
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) terus menghadapi rekor pengangguran akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Akibatnya mereka kehilangan pendapatan dan 30% di antaranya tidak bisa membayar cicilan rumah di bulan Juni.

Berdasarkan survei Apartment List, sebuah platform rental online, angka itu naik dari awalnya hanya 24% yang melewatkan cicilan rumah di bulan April dan sekitar 31% yang melewatkan cicilan rumah pada bulan Mei. Kelompok yang paling banyak melewatkan cicilannya adalah golongan rumah tangga muda, berpenghasilan rendah dan penduduk kota.

Ke depan kemungkinan warga AS akan semakin kesulitan untuk mencicil rumah. Mengingat 30 juta pengangguran AS akan kehilangan tambahan US$ 600 atau Rp 8,5 juta (kurs Rp 14.200/US$) per minggu dalam tunjangan pengangguran federal yang akan berakhir akhir Juli.

Para ahli memperingatkan agar pemerintah campur tangan dalam masalah ini, jika tidak maka akan datang 'kiamat' di sektor perumahan. Sekitar 37% dari penyewa dan 26% dari pemilik rumah setidaknya khawatir bahwa mereka akan menghadapi penggusuran dalam enam bulan ke depan. Peneliti Universitas Columbia memperkirakan tunawisma dapat meningkat antara 40-45% tahun ini.

"Dalam iklim saat ini, dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan banyak yang tidak mampu membayar sewa karena alasan yang berkaitan dengan COVID-19, baik hakim pengadilan perumahan maupun pengacara kami tidak akan dapat menyelesaikan banyak dari perselisihan ini sehingga mengakibatkan penggusuran, tidak memiliki perasaan," tulis The Right to Counsel NYC Coalition dalam surat kepada Ketua Hakim Administratif di Sistem Pengadilan Terpadu Negara Bagian New York, Lawrence K. Marks, dilansir CNBC, Rabu (17/6/2020).

Untuk mencegah krisis tunawisma, Advokat menyarankan Gubernur memperpanjang atau memberlakukan moratorium penggusuran universal untuk pertama kalinya selama krisis Corona. Hal itu harus dilakukan untuk mendorong masyarakat agar tetap di rumah dan menghindari penyebaran Corona lebih banyak di AS yang telah menyebabkan 118.000 orang meninggal.

Di tingkat federal, Undang-Undang (UUD) Bantuan Sewa Darurat DPR dan Stabilisasi Pasar Sewa akan mengalokasikan US$ 100 miliar untuk bantuan sewa darurat, yang akan membantu penyewa di seluruh negeri membayar sewa dan tagihan listrik. Namun UUD yang telah disahkan oleh DPR pada bulan Mei itu terhenti di Senat, termasuk perpanjangan moratorium nasional untuk pengajuan penggusuran, dengar pendapat dan eksekusi selama 12 bulan.

Pakar dalam kebijakan perumahan di Urban Institute, Solomon Greene mengatakan risiko yang jauh lebih besar untuk mengatasi kesehatan adalah ketika masyarakat tidak punya rumah untuk berlindung.

"Ketidakstabilan perumahan memiliki konsekuensi kesehatan yang sangat besar bahkan ketika kita tidak menghadapi pandemi. Risiko jauh lebih besar dan buruk ketika Anda tidak bisa berlindung di tempat karena Anda tidak punya tempat berlindung," kata Greene.

isi tas


Simak Video "Imbas Corona, Pengangguran Diprediksi Bertambah 5,23 Juta Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)