Ramai WFH Saat Pandemi, Masih Perlukah Karyawan Ngantor?

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 12:14 WIB
Shot of a young businesswoman using a digital tablet during a late night in a modern office
Ilustrasi WFH/Foto: Getty Images/Cecilie_Arcurs
Jakarta -

Banyak perusahaan menerapkan sistem bekerja dari rumah alias work from di tengah pandemi Corona yang belum juga usai. Ada pertanyaan besar di tengah situasi seperti ini, apakah kita masih perlu kantor?

Bahkan perusahaan besar global mulai menjajaki apakah mereka dapat menghemat uang untuk menekan biaya properti mereka. Salah satu perusahaan besar yang mempertimbangkan langkah tersebut adalah raksasa makanan ringan Mondelez International.

"Mungkin kita tidak membutuhkan semua kantor yang saat ini kita miliki di seluruh dunia," kata CEO Mondelez, Dirk Van de Put, dikutip dari CNN, Kamis (18/6/2020).

Memang banyak perusahaan mulai memutuskan untuk tetap bekerja secara virtual, jarak jauh ataupun dari rumah (work from home/WFH), setidaknya sampai akhir tahun ini karena efek pandemi. Bahkan, Twitter lebih ekstrim, mereka mengatakan memungkinkan karyawan bekerja dari rumah selamanya.

Begitu juga cerita Mike Iacobucci seorang CEO dari perusahaan layanan artificial intelligence (AI) Interactions, Maret lalu dia memutuskan untuk membatalkan penandatanganan kontrak 12 tahun untuk gedung kantornya. Baginya, membuat komitmen besar dan jangka panjang di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi bukan pilihan yang baik.

Perusahaannya sekarang 100% bekerja secara remote alias dari jarak jauh dan berencana untuk tetap seperti itu. Namun, Mike menegaskan perusahaan akan tetap memiliki kantor yang dijadikan markas, meski kapasitasnya lebih kecil.

"Ini akan menjadi kantor yang jauh lebih kecil. Tetapi itu akan membawa pelanggan ... atau membuat tim bisa masuk dan berkolaborasi secara terjadwal dan mengadakan pertemuan," kata Mike.

Tapi tidak semua perusahaan tahan dengan konsep kerja jarak jauh dan bukan di kantor. Beberapa perusahaan telah meerencanakan untuk tetap bekerja pada ruang kerja pribadi mereka di kantor.

Perusahaan e-commerce Fast misalnya, mereka baru saja pindah ke ruang kantor baru seluas 10.000 kaki persegi di San Francisco sekitar enam minggu sebelum lockdown. CEO Fast Domm Holland mengatakan dia benar-benar berencana untuk kembali menggunakan kantor.

Menurutnya, meski banyak keberhasilan bekerja dari rumah, hal tersebut tidak menjadi parameter suksesnya penerapan konsep ini. Dia justru menilai cara berpikir seperti itu adalah hal buruk.

"Perusahaan berpikir setiap orang telah berhasil bekerja dari rumah selama tiga bulan terakhir dan mereka dapat terus melakukannya. Saya pikir itu adalah pendekatan yang sangat buruk," kata Domm.

"Bagi sebagian orang, mereka benar-benar membencinya (kerja jarak jauh). Ada banyak orang yang duduk di rumah selama beberapa bulan terakhir benar-benar ingin keluar dari rumah dan kembali ke kantor," ujarnya.



Simak Video "Twitter akan Izinkan Karyawan WFH Selamanya"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)