Liberalisasi Sektor Hilir Migas
Adu Kuat Pertamina dan Asing
Senin, 26 Des 2005 11:59 WIB
Jakarta - Monopoli Pertamina di sektor hilir migas bakal habis pada 31 Desember 2005 ini. Era baru penyaluran BBM akan dimulai pada awal tahun depan. Siapakah yang masih menjadi leader-nya?Banyak pihak yakin pada tahun 2006, yang merupakan awal habisnya masa public services obligation (PSO) Pertamina, perusahaan plat merah ini masih akan menjadi sang pemimpin. Hal itu diyakini oleh Dirjen Migas Departemen ESDM Iin Arifin Takhyan.Iin yang disebut-sebut sebagai salah satu calon Dirut Pertamina mengakui, masih memimpinnya Pertamina dalam soal jualan BBM ini karena Pertamina memiliki akses dan fasilitas BBM yang lebih besar ketimbang para pemain baru itu. "Tahun 2006 Pertamina masih yang menjadi pemain utamanya," ujar Iin.Memang ketika gong akan dicabutnya PSO Pertamina ditabuh, berduyun-duyun pemain asing masuk pasar BBM di Indonesia. Mulai dari Petronas, Shell dan Caltex serta perusahaan lokal lainnya yang berkeinginan mengeruk keuntungan dari bisnis BBM ini.Berdasarkan data yang diperoleh detikcom, perusahaan minyak asal negeri jiran, Petronas, berencana membanguan lebih dari 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sampai tahun 2011. Pompa bensin milik Petronas nantinya menyamai jumlah pemain baru lainnya, Shell.Pada tahap pertama di tahun 2005 ini, Petronas sudah membangun satu buah SPBU yang berada di kawasan Cibubur. Petronas akan memasarkan BBM khusus dengan oktan di atas 92 ron (real octant number). SPBU itu akan didirikan di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Periode awal tahun 2005-2006, Petronas akan membanguan 5 unit SPBU. Kemudian kurun waktu 2006-2007 sebanyak 30 unit SPBU. Selanjutnya periode 2007-2008 sebanyak 65 unit SPBU, 2008-2009 sebanyak 10 unit SPBU, 2009-2010 sebanyak 147 SPBU dan 2010-2011 sebanyak 200 SPBU. Sementara, perusahaan minyak Shell yang sudah mendirikan SPBU di Karawaci Tangerang, dalam jangka waktu 8 tahun mendatang juga akan membangun hingga 400 SPBU di Sumatera dan Jawa.Lalu bagaimana dengan kesiapan Pertamina menghadapinya? Direktur Utama Pertamina Widya Purnama pernah sesumbar akan tetap menjadi nomor satu di era liberalisasi sektor migas ini. "Kita malah senang ini dibuka bebas. Soalnya monopoli itu bukannya mengenakkan Pertamina. Karena kalau terjadi masalah apa pun selalu Pertamina yang disalahkan," katanya.Dengan adanya pemain baru, kata Widya, Pertamina akan mempunyai tolok ukur dan persaingan akan lebih terbuka, sehingga masyarakat bisa menilai bagaimana kinerja Pertamina sesungguhnya. Pertamina pun mulai berancang-ancang dengan masuknya para pemain asing ini. Dalam beberapa bulan ini Pertamina sudah menurunkan harga BBM industri, Pertamax dan Pertamax Plus. Pertamina agak khawatir dengan para pemain baru yang menjual BBM khusus dengan kualitas oktan di atas 92 dengan harga bersaing. Soalnya kualitas BBM yang ditawarkan pemain asing ini sangat baik.Namun hal itu dibantah oleh Pertamina. Kata Kepala Divisi BBM Pertamina Ahmad Faisal kepada detikcom, penurunan harga BBM untuk industri dan Pertamax ini bukan terkait dengan masuknya sejumlah pemain asing di sektor hilir migas. "Ini tidak ada kaitannya dengan era persaingan baru bisnis hilir migas ini. Penurunan harga karena memang harga minyak di pasar internasional turun," urainya.Lalu siapakah yang nanti akan menjadi pemenangnya? Memang untuk tahun 2006 Pertamina masih unggul. Lalu bagaimana pada tahun-tahun berikutnya, saat perusahaan-perusahaan asing itu mendirikan ratusan SPBU? Kita tunggu saja!
(mar/)











































