Ketua MPR Sebut UMKM Harus Dapat Literasi Teknologi di Tengah Pandemi

Nurcholis Ma - detikFinance
Sabtu, 20 Jun 2020 19:12 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menuturkan dampak pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak sektor perekonomian terpukul, termasuk kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai kelompok usaha yang paling banyak jumlahnya. Saat ini Indonesia didominasi oleh sekitar 58 juta pelaku bisnis UMKM, atau mencapai 98% dari total unit usaha yang ada.

"Untuk bisa bertahan hidup, UMKM membutuhkan kehadiran dan dukungan pemerintah melalui stimulus kebijakan perekonomian yang berpihak pada mereka. Di tengah lompatan kemajuan zaman, maka bantuan pemerintah dalam mewujudkan literasi teknologi bagi pelaku UMKM adalah suatu keniscayaan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2020).

"Misalnya di masa pandemi, di mana interaksi penjual dan pembeli dibatasi secara fisik, diperlukan pemanfaatan teknologi yang bisa menjadi solusi," imbuh Bamsoet.

Hal itu diucapkannya dalam acara Bincang-Bincang Santai Virtual bersama Aa Gym di Bogor. Acara ini rencananya juga bakal ditayangkan di salah satu televisi swasta nasional pada hari Sabtu, 27 Juni 2020 pukul 20.15 WIB.

Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan, pada tanggal 3 Juni 2020, pemerintah telah mengumumkan kenaikan anggaran penanganan COVID-19 dari Rp 405,1 triliun menjadi Rp 677,2 triliun, atau naik sebesar 67%. Dari anggaran tersebut akan diperuntukkan bagi pelaku UMKM sebesar Rp 123,46 triliun.

"Anggaran sebesar itu digunakan untuk membiayai subsidi bunga, penempatan dana untuk restrukturisasi dan mendukung modal kerja bagi UMKM yang pinjamannya sampai Rp 10 miliar, serta belanja untuk penjaminan terhadap kredit modal kerja darurat," tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menekankan alokasi kenaikan anggaran tersebut harus tepat sasaran, sehingga dapat memberi output yang optimal dan dampak yang efektif sebagai bagian dari solusi mengatasi persoalan pandemi.

"Kenaikan anggaran tersebut harus juga diimbangi dengan pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Untuk menjamin terlaksananya dua hal tersebut, perlu dilakukan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penyelewengan," tegas Bamsoet.

Namun, Anggota Dewan Pakar KAHMI ini menilai, dari sudut pandang ekonomi, masih akan sulit mencapai target pendanaan untuk menjaga taraf hidup rakyat. Sebab daya beli dunia menurun, ekspor Indonesia menurun, produksi dalam negeri melemah serta pengangguran bertambah sekitar 3-4 juta orang. Sementara COVID-19 masih belum bisa diprediksi kapan akan berakhir.

"Para ahli ekonomi juga memperkirakan, setengah lapangan pekerjaan di dunia akan hilang dan tidak akan kembali lagi. Dunia industri akan berubah total di masa depan. Kita akan semakin individualistik dan lebih cepat masuk ke dalam era teknologi, digitalisasi, dan robotik," papar Bamsoet.

Karenanya, Ketua MPR RI ini menegaskan diperlukan komitmen dan kerja sama seluruh komponen bangsa dalam menghadapi krisis akibat pandemi COVID-19. Di saat masa krisis seperti kondisi sekarang, sangat penting agar setiap elemen masyarakat berperan dan berkontribusi sesuai bidang masing-masing.

"Dengan masih tingginya angka persebaran kasus positif COVID-19 pada masa gaya hidup baru atau new normal, kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan tidak boleh kendor. Saatnya kita bergandengan tangan, bahu-membahu, bergotong royong bersama sebagai satu kesatuan bangsa dalam menghadapi pandemi COVID-19. Sesuai dengan apa yang diajarkan dalam nilai-nilai Pancasila," pungkas Bamsoet.

Pada acara yang sama, Aa Gym sendiri meminta kepada umat muslim agar tetap tabah dan bersabar serta menjadikan pandemi COVID-19 ini sebagai cobaan yang akan menaikkan derajat keimanan yang semakin memperkokoh rasa keislaman umat.



Simak Video "Sambangi Saudi-Maroko, MPR Gagas Pembentukan Majelis Syuro Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)