Pengamat: Konsolidasi Bisnis Gojek Hadapi Pandemi Tepat & Wajar

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 25 Jun 2020 16:58 WIB
Gojek
Foto: Gojek
Jakarta -

Guru Besar Ekonomi, pengamat bisnis serta pendiri Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali menilai langkah Gojek melakukan konsolidasi bisnis merupakan strategi yang tepat. Langkah tersebut akan memperkuat bisnis inti Gojek dalam menghadapi krisis ekonomi dan pandemi yang tak kunjung usai.

Sebab, kata dia, semua sektor bisnis saat ini juga terdampak pandemi, apalagi sektor pariwisata. Oleh karenanya, wajar jika perusahaan sampai harus merumahkan karyawan karena dalam kondisi ini yang perlu diperhatikan adalah pengeluaran yang pasti dilakukan oleh perusahaan (Opex) bukan pengeluaran untuk manfaat masa depan (Capex).

"Dalam hal capex, perusahaan bisa menundanya tapi untuk opex, saat ini semua perusahaan dituntut melakukan penghematan," tegas Rhenald dalam keterangan tertulis, Rabu (25/6/2020).

Rhenald juga menekankan keputusan mereorganisasi bisnis itu bukan menjadi ukuran daya tahan suatu perusahaan. Menurutnya daya tahan bisnis terletak di bidang bisnisnya, di mana saat ini bidang bisnis yang terkait pariwisata dan event organizer terkena dampak paling signifikan. Sehingga keputusan sebuah startup melakukan reorganisasi bisnis tak perlu didramatisir.

"Saat perusahaan memiliki dana cukup, dia bisa eksplorasi. Tapi selanjutnya, dari hasil eksplorasi itu, dia bisa menilai bisnis mana yang akan jadi fokusnya. Kemudian ketika terjadi guncangan ekonomi, semua perusahaan harus lakukan pemangkasan. Trimming," tuturnya.

Hal yang sama juga dilontarkan Pengamat Ekonomi yang juga Business Development Advisor Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero. Ia menilai langkah Gojek untuk konsolidasi ke bisnis intinya adalah hal yang tepat. Hal yang dilakukan Gojek pun dianggap wajar dalam bisnis.

"Jika pada awalnya dia mungkin ekspansi dengan membuka layanan tambahan, lalu di tengah jalan dia konsolidasi, itu lebih karena dia menganalisa lini apa yang bisa tumbuh, mana yang tidak bisa. Lalu jika akhirnya dia memutuskan memperkuat lini usaha tertentu, keputusan itu wajar," terangnya.

Di tataran global, lanjut Poltak, juga terjadi konsolidasi yang bertujuan untuk memperkuat bisnis inti, apalagi banyak sektor yang terdampak oleh pandemi, seperti penerbangan, akomodasi, hingga pembiayaan.

Terlebih bisnis pengantaran (delivery) di saat pandemi dinilai dia, justru tumbuh di saat lini bisnis lainnya bertumbangan. Sehingga, bisnis digital tersebut jangan hanya bertumpu pada sektor saja, bisa mengandalkan lainnya jika terdampak.

"Startup itu ke depannya harus lincah dan jangan hanya mengandalkan satu lini saja, apalagi jika lini itu memiliki segmen yang sangat sempit. Kalau bisnis konvensional saja bisa begitu lincah dengan membaca peluang yang ada, kenapa startup tidak?" ungkapnya.

Seperti diketahui bahwa aplikator besutan anak bangsa, Gojek, memutuskan untuk memperkuat bisnis inti perusahaan mengingat dampak layanan tersebut yang sangat luas di masyarakat. Bisnis inti yang akan jadi fokus Gojek ke depan adalah bisnis transportasi, pesan-antar makanan dan uang elektronik.

Gojek akan mulai meniadakan layanan GoLife yang meliputi GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival. Layanan GoLife maupun GoFood Festival membutuhkan interaksi jarak dekat. Kedua lini bisnis yang sebelum pandemi sempat menjadi tumpuan ini, mengalami penurunan secara signifikan beberapa bulan terakhir. Aplikasi GoLife akan dapat digunakan hingga 27 Juli mendatang.

Gojek pun dengan berat hati merumahkan sebanyak 430 karyawan (setara 9 persen dari total karyawan), di mana sebagian besar berasal dari divisi yang terkait dengan GoLife dan GoFood Festival.



Simak Video "Gojek Disebut Akan PHK Karyawannya"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)