Bulog Punya Tugas Soal Kedelai hingga Jagung, DPR: Belum Jalan

- detikFinance
Kamis, 25 Jun 2020 20:45 WIB
Pekerja menata stok beras di Gudang Bulog Sub Drive  Serang, Banten, Jumat (3/4/2020). Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan stok beras saat ini sebanyak 1,65 juta ton beras medium dan 170 ribu ton beras, cukup untuk  kebutuhan puasa hingga lebaran. Stok beras akan bertambah sekitar 1,7 juta ton lagi dari hasil serapan gabah petani pada puncak masa panen bulan April-Mei. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/pras.
Foto: ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN
Jakarta -

Komisi VI DPR RI menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Perum Bulog hari ini. Rapat yang membahas evaluasi anggaran tahun 2020 dan subsidi pangan dalam APBN 2021.

Rapat tersebut juga membahas penugasan Bulog menyerap cadangan beras pemerintah (CBP), dan kondisi penyalurannya.

Rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPR RI Sudin dari fraksi PDIP dan dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) itu menghasilkan 4 kesimpulan. Salah satunya yakni meminta pemerintah menugaskan Bulog untuk menyerap dan menyalurkan komoditas pangan selain beras, tapi juga jagung dan kedelai

Sudin mengatakan, khususnya untuk kedelai, ia meminta pemerintah menugaskan Bulog untuk menyerap dan menyalurkan komoditas tersebut.

"Kan ada Kepres yang meminta Bulog untuk mendapatkan hak, menyalurkan, mengimpor padi, jagung, kedelai. Tadi sudah ada suratnya, tapi sampai sekarang penugasannya itu belum berjalan. Nah yang dikhawatirkan selama ini komoditas kedelai ini sebenarnya tidak jelas yang memimpin," kata Sudin di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/6/2020).

Ia mengungkapkan, saat ini impor kedelai sebagian besar didominasi perusahaan swasta.

"Salah satu importir saya dapatkan info menguasai hampir 80% kedelai impor. Ini yang saya sayangkan, kenapa sih penugasan itu tidak diberikan kepada Bulog secara nyata tidak hanya lewat Kepres," jelasnya.

Menurut Sudin, Bulog sebagai BUMN harus punya tugas untuk memasok kedelai karena kebutuhan di Indonesia cukup tinggi.

"Jadi aturan turunannya diturunkan. Misalnya dalam rakortas atau ratas Bulog ditugaskan impor kedelai. Apalagi kebutuhan kita hampir 2,2 juta ton per tahun, yang bisa diproduksi hanya 300 ribu ton," tuturnya.

Buka halaman selanjutnya>>>



Simak Video "Tekan Angka Stunting, Bulog Sebar 3.000 Paket Makanan di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]