Setelah Bangkrut, Kondisi Keuangan Toko Ritel Ini Makin Parah

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 01 Jul 2020 10:58 WIB
jcpenney
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Setelah salah satu jaringan ritel asal Amerika Serikat, J.C. Penney Company, Inc. mengajukan kebangkrutan pada awal Juni lalu akibat dampak virus Corona, kini keuangan perusahaan semakin memburuk.

Selasa kemarin, perusahaan melaporkan kerugian per 2 Mei 2020 mencapai US$ 477 juta setara Rp 6,9 triliun (kurs Rp 14.200/ dolar US$). Kerugian tersebut lebih besar dibandingkan tahun lalu dengan US$ 93 juta atau Rp 1,3 triliun.

Dikutip dari CNN, Rabu (1/7/2020), total kerugian bersih JCPenney di kuartal ini mencapai US$ 546 juta (Rp 7,9 triliun), naik lebih dari 250% dari kerugian periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebelumnya 846 toko JC Penny tutup hingga Mei lalu untuk menghindari penyebaran virus Corona. Awal Juni beberapa toko mulai kembali dibuka, namun kerugian terus meningkat. Kerugian per 6 Juni saat toko beroperasi mencapai $US 60 juta (Rp 896 miliar).

Perusahaan berharap bisnisnya mampu bertahan di tengah krisis virus Corona. Namun, kerugian makin meroket akibat penurunan pendapatan. Hal itu tidak bisa dihindari dan mendorong perusahaan ke situasi kebangkrutan.

Bukan hanya JC Penney banyak pengecer lain yang telah mengalami kebangkrutan dan makin merugi ketika toko kembali dibuka. Seperti yang terjadi juga pada pengecer Pier 1, Toys "R" Us dan pengecer lainnya.



Simak Video "Warung Diharapkan Tak Cuma Jualan di Kampung, Tapi Berani e-Commerce"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)