Soal Protokol Kesehatan di Pasar, Mendag Akui Masih Lemah

Pradito Rida Pertama - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2020 13:20 WIB
Mendag Agus Suparmanto (Pradito Rida Pertana-detikcom)
Foto: Mendag Agus Suparmanto (Pradito Rida Pertana-detikcom)
Yogyakarta -

Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mengaku jika penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di pasar masih lemah. Karena itu, Kemendag akan menggencarkan pendekatan secara persuasif lewat sosialisasi kepada para pedagang pasar.

"Berkaitan dengan pasar memang kita ini pelan-pelan mensosialisasikannya (protokol kesehatan). Karena ada beberapa yang masih lemah protokol kesehatannya, dan itu perlu kita sosialisasikan untuk menyadarkannya," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto saat ditemui wartawan di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Kamis (2/7/2020).

Mengingat penerapan protokol kesehatan bertujuan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan masyarakat itu sendiri, khususnya masyarakat yang berdagang di pasar rakyat maupun konsumen. Namun, karena banyak pedagang yang merugi maka penerapan protokol kesehatan bagi pedagang dan konsumen harus menggunakan strategi khusus.

"Kita juga tidak bisa memaksa harus demikian. Kita perlu pendekatan persuasif karena mereka juga melihat penjualannya menurun," ucapnya.

Menurutnya, sosialisasi itu berupa pengarahan kepada pedagang terkait pentingnya menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Agus berharap dengan cara tersebut baik pedagang dan konsumen akan mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan di pasar.

"Ini yang harus kita sosialisasikan. Karena kalau kita jelas (sosialisasinya) mereka akan menerima. Jadi itulah bentuk dari strategi kita menguatkan bagaimana protokol kesehatan di pasar," katanya.

Menyoal jumlah pasar yang tutup selama pandemi COVID-19, Agus mengaku tidak mencapai ribuan. Hal itu karena tidak ada pasar yang tutup dengan kurun waktu yang lama.

"Tidak sampai (1000 pasar). Karena kan ada yang tutup terus buka lagi, jadi tidak berbarengan," ujarnya.

Menurutnya, pemberlakuan sistem penutupan sementara terhadap suatu pasar terjadi jika ada pedagang atau konsumen yang positif COVID-19. Namun, jika pasien positif telah tertangani maka pasar tersebut akan dibuka kembali.

"Jadi ini kan ada yang tutup terus buka lagi. Karena kalau ada yang kena positif itu segera ditutup, dilakukan evaluasi dan dites lagi supaya yang positif ini dilokalisir kemudian dilakukan penyemprotan dengan disinfektan. Setelah itu dibuka lagi setelah semuanya aman," ujarnya.



Simak Video "Tes Corona di 19 Pasar di Jakarta, 52 Pedagang Positif"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)