Buwas Yakin Tahun Ini RI Tak Ada Impor Beras Sebutir Pun!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2020 18:10 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengunjungi Gudang Bulog Gedebage, Bandung, Selasa (3/2). Buwas memastikan stok beras untuk Idul Fitri 2020 aman.
Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso yakin di tahun 2020 ini Indonesia tak akan mengimpor beras meski ada peringatan krisis pangan dunia karena kekeringan dari Food Agriculture Organization (FAO). Apalagi, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memprediksi Indonesia akan mengalami surplus beras di akhir tahun 5-6 juta ton.

"Pengalaman saya sebagai Dirut Bulog dan sekarang sudah lebih dari 2 tahun saya menjadi Dirut Bulog. Dan saya sudah buktikan selama kepemimpinan saya itu tidak pernah kami mengimpor. Insyaallah sampai tahun ini tidak impor beras sebutir pun, insyaallah. Karena tadi Pak Menteri Pertanian juga menjamin itu," kata pria yang akrab disapa Buwas dalam webinar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Kamis (2/7/2020).

Menurut Buwas, Indonesia sebagai negara agraris harus memegang prinsip untuk tidak mengimpor komoditas pangan dan menunjukkan keberpihakan kepada petani.

"Ini soal harga diri dan keyakinan pada petani bahwa kita memang bisa. Kita bisa menghasilkan pangan dari dalam negeri. Ini akan selalu saya bangun," tutur Buwas.

Buwas mengatakan, ketika panen beras tengah berlangsung, Bulog punya tugas besar untuk menyerap produksi petani rakyat. Gudang yang dimiliki Bulog sendiri berkapasitas 3,6 juta ton beras, dan kini baru terisi 1,4 juta ton. Hanya saja, pihaknya masih terkendala modal untuk menyerap beras petani lebih banyak lagi.

Bulog sendiri harus meminjam modal kerja ke perbankan dengan bunga komersial untuk menyerap hasil panen petani rakyat.

"Tadi kata Mentan produksi banyak tapi Bulog nggak bisa menyerap. Bukan nggak mampu, kapasitas kita 3,6 juta ton namun pendanaan terbatas," ujar dia.

Selain itu, Bulog juga kesulitan untuk menyalurkan atau menjual cadangan beras pemerintah (CBP) ke pasar-pasar rakyat. Apalagi, program bantuan sosial (bansos) beras yang ada saat ini yaitu Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kini bisa dipasok oleh berbagai supplier swasta.

"Bila mana beras kita nggak digunakan maka bunganya jadi beban. Belum perawatan beras itu sendiri," ujar Buwas.

Oleh sebab itu, Buwas terus menyuarakan agar pemerintah mengalokasikan APBN untuk Bulog demi memperlancar penyerapan hasil panen petani.

CBP ini milik negara, seyogyanya ini diserap oleh negara dan Bulog hanya merawat dan menyimpan. Toh pada akhirnya pendistribusiannya atas peirntah negara dan untuk kepentingan negara. Kemarin memang dari Menteri Keuangan menyampaikan ini, karena tidak ada KPA-nya untuk masalah itu. Oleh sebabnya kami terima kasih ke Mentan untuk mendukung dan mendorong kami mendapat dana APBN untuk penyerapan," tutup dia.



Simak Video "Polri Siap Distribusikan 6.000 Ton Beras Bagi Warga Terdampak Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)