Pengusaha Prediksi Ekonomi RI Bisa Minus 6% 

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 03 Jul 2020 07:02 WIB
Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani
Ketua umum Kadin Rosan Roeslani/Foto: Citra Nur Hasanah/20detik

Dia menjelaskan pengalokasian ulang seperti investasi jangka panjang dari postur anggaran untuk kepentingan pemulihan ekonomi kuartal II dan stimulus yang belum optimal diprediksi akan mempengaruhi kontraksi ekonomi.

"Kadin Indonesia telah memberikan pandangan sebelumnya, bahwa pertumbuhan ekonomi 2,96% kuartal I tidak akan setinggi prakiraan sebelumnya dan bahkan beberapa faktor yang memperlambat pertumbuhan kuartal I semakin nyata dialami dunia usaha dan sektor riil kuartal II ini," ujarnya.

Menurut dia jika tidak terjadi peningkatan ketepatan, kecepatan dan keterpaduan dalam kebijakan pemulihan ekonomi, maka kontraksi ekonomi pada kuartal III akan terjadi.

Dia mengungkapkan ada risiko terjadinya kelumpuhan permanen di beberapa unsur dunia usaha apabila pemulihan daya beli dan daya produksi tidak dilakukan secara inklusif, cepat, dan masif.

Selain itu, pengusaha menilai Peraturan Pemerintah (PP) 23 Tahun 2020 harus dikaji ulang mengingat tidak terimplimentasinya hal tersebut dikarenakan beberapa alasan termasuk belum adanya unsur penjaminan yang berkenan terhadap sistem perbankan untuk dilakukannya program restrukturisasi terhadap banyak debitur/pengusaha UMKM, BUMN, dan lain lain.

Rosan menambahkan, Indonesia seharusnya tidak hanya menyadari keterbatasan tersebut, namun juga bagaimana bisa unggul dalam memajukan demokrasi dan ekonomi yang membawa kesejahteraan untuk masyarakat.

Oleh karena itu, lanjut Rosan, Indonesia tidak hanya butuh kekuatan, namun kapasitas adaptasi ataupun agilitas yang bisa dibuahkan dalam beberapa hal. Pertama, kerangka pemulihan ekonomi tidak semata hanya untuk pemulihan daya beli namun juga pemeliharaan dan peningkatan daya produksi agar Indonesia bisa terus meningkatkan devisa untuk pembangunan demokrasi dan ekonomi yang inklusif ke depan.

Penyikapan pemerintah untuk meningkatkan skala stimulus (untuk pemulihan ekonomi) dari 2,5% menuju 3,9% dari PDB akan mempengaruhi sejauh mana seluruh sektor bisa bangkit dan membukakan lapangan kerja, daya saing, dan devisa tambahan.

Halaman


Simak Video "Menko Perekonomian: Minus 3,4%, Kuartal III RI Capai Tren Positif"
[Gambas:Video 20detik]

(kil/ara)