Ada Ancaman Krisis Pangan Dunia, RI Harus Waspada?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 04 Jul 2020 12:30 WIB
Merebaknya wabah Virus Covid-19 (Corona) tampaknya tidak terlalu risau dan tak berpengaruh pada kehidupan petani di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Mereka tetap menggarap sawahnya.
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pada bulan April 2020 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperingatkan para menteri Kabinet Indonesia Maju akan ancaman krisis pangan dunia di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) seperti yang diprediksi oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

Peringatan itu pun langsung direspons para menteri, mulai dari Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto dengan merencanakan pembangunan lumbung pangan nasional (food estate) pertama yang berlokasi di Kalimantan Tengah.

Sementara itu, menurut pengamat pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas, ancaman krisis pangan dunia itu tidak benar. Ia membeberkan, produksi pangan dunia khususnya kelompok serealia (biji-bijian sumber karbohidrat seperti padi, gandum, dan lain-lain) pada tahun 2019 justru meningkat. Sedangkan, salah satu penyebab utama krisis pangan adalah penurunan produksi komoditas pangan dari tahun sebelumnya.

"Produksi serealia dunia tahun 2019 yang lalu itu mencapai rekor tertingginya 3.000 juta ton serealia. Memang padi sedikit menurun, tapi penurunannya hanya 0,5% dari 499 juta ton ke 496 juta ton. Jadi itu yang terkait produksi. Sehingga produksi pangan dunia tidak terganggu. Karena tahun 2019 ini surplusnya cukup besar, surplus itu mengimbas ke 2020," kata Dwi ketika dihubungi detikcom, Sabtu (4/7/2020).

Lalu, Dwi mengatakan krisis itu juga disebabkan oleh melonjaknya harga pangan dunia. Faktanya, harga pangan dunia turun.

"Di bulan Januari itu indeks harga pangan, food price index FAO itu 183, lalu di bulan Mei turun jadi 162. Ketika terjadi krisis pangan dunia tahun 2007-2008, itu indeks harga pangan dunia menyentuh 220. Yang krisis pangan tahun 2011 itu 240. Yang sekarang ini malah turun," terang dia.

Dengan tidak terpenuhinya dua faktor tersebut, maka ia menilai prediksi krisis pangan dunia tidak benar.

"Dua faktor itu sama sekali tidak terpenuhi. Jadi tidak ada alasan, tidak ada dasar bahwa dunia akan mengalami krisis pangan," tegas Dwi.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Siap Terapkan Protokol Kesehatan, Pekerja Seks di Bolivia Minta Pembatasan Dicabut "
[Gambas:Video 20detik]