Lumbung Pangan Jadi Jaminan RI Aman dari Krisis Pangan?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 04 Jul 2020 13:26 WIB
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapat tugas dari Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan program pengembangan food estate sebagai daerah yang diharapkan menjadi lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa. Lokasi lumbung pangan baru ini direncanakan berada di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah yang juga akan menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020 - 2024.
Foto: Istimewa/Kementerian PUPR
Jakarta -

Pembangunan lumbung pangan nasional (food estate) di Kalimantan Tengah (Kalteng) ditargetkan rampung tahun 2022. Lumbung pangan pertama yang akan dibangun di lahan seluas 148 ribu hektare (Ha) ini diwacanakan pemerintah untuk menjadi solusi akan ancaman krisis pangan.

Namun, wacana ini menuai kritik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta melihat kembali rencana pembangunan lumbung pangan di pemerintahan periode-periode sebelumnya. Menurut pengamat pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas, rencana ini sudah pernah diinisiasikan mulai dari pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto, lalu juga di periode pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun tak berhasil.

"Food estate itu kan sudah berulang. Satu kegagalan yang berulang. Dari gambut 1 juta Ha yang dibangun Pak Harto tahun 1996-1997. Sekarang sisanya apa? Memang masih ada beberapa ribu transmigrasi yang masih aktif di sana. Tapi dari target semula 1 juta Ha kan jauh sekali dari target itu," kata Dwi kepada detikcom, Sabtu (4/7/2020).

"Lalu Ketapang 100rb Ha di masa SBY, 300 ribu Ha di Bulungan masa SBY juga, nggak ada ceritanya. Hanya tersisa beberapa belas Ha saja," sambung Dwi.

Bahkan, menurutnya Jokowi sendiri pun sudah pernah mewacanakan pembangunan lumbung padi (rice estate) di Merauke yang hingga kini tak terealisasi.

"Di awal pemerintahan Pak Jokowi rencana pengembangan Merauke 1,2 juta Ha. Nggak ada ceritanya sampai sekarang. Semua gagal. Dalam arti semua proyek food estate sampai detik ini gagal total," tegas Dwi.

Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar juga mengatakan hal serupa. Bahkan, menurutnya wacana pembangunan lumbung pangan di Kalteng ini hanya menghabiskan waktu dan anggaran yang besar.

"Dulu ada lahan 1 juta Ha di Kalimantan itu kan tidak apa-apa. Berapa sih yang jadi? Ada tapi sedikit banget. Rice estate yang di Merauke, kan itu akhirnya tidak ada apa-apa juga. Jadi maksud saya daripada nanti buang-buang waktu, buang-buang uang, SDM-nya sangat minim, lebih bagus mengoptimalkan lahan petani yang sudah ada, lahan BUMN yang sudah ada tapi belum ditanami," kata Hermanto ketika dihubungi detikcom.

Tak jauh berbeda, pengamat pertanian dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah juga meminta pemerintah mempertimbangkan wacana pembangunan lumbung pangan di Kalteng tersebut.

"Food estate itu bagus. Tapi jangan sampai ini gagal seperti di Merauke. Nah itu kan tidak terdengar lagi. Ini kalau di Kalimantan bagus dalam artian untuk menambah pasokan pangan, tapi perlu dipertimbangkan," tutur dia kepada detikcom.



Simak Video "Jokowi-Prabowo Siapkan Lumbung Pangan, Antisipasi Krisis Pangan"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)