Wawancara Khusus Mari Pangestu (3)
Tersandung Standar Negara Maju
Kamis, 29 Des 2005 11:39 WIB
Jakarta - Ekspor masih menjadi motor yang penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun sayangnya, upaya peningkatan ekspor masih saja terganjal oleh tingginya syarat yang ditetapkan oleh negara maju yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia.Pemerintah pun berusaha untuk meningkatkan standar produk-produk Indonesia agar bisa diserap oleh pangsa pasar dunia. Untuk itu, Departemen Perdagangan (Depdag) merangkul semua instansi agar ekspor bisa terus meningkat.Indonesia pun telah berupaya melakukan sejumlah perundingan perdagangan tingkat dunia seperti forum World Trade Organisation (WTO). Bagaimana upaya pemerintah mengatasi berbagai hambatan perdagangan dunia untuk memuluskan ekspor? Berikut wawancara khusus wartawan detikcom dengan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu:Sistem perdagangan dunia apakah ada hal-hal yang telah merugikan?Hambatan utama perdagangan di negara maju sebenarnya bukan bea masuk yang tinggi tapi lebih ke syarat-syarat yang harus dipenuhi agar bisa mengekspor kesana. Misalnya ketentuan standar rules of origin, serta negara maju yang menggunakan bermacam-macam instrument demi memproteksi produk dalam negerinya. Kita dapat memahami dan berusaha memenuhi standar tersebut dengan up to date mempelajari aturan mainnya. Disini lah peran pemerintah untuk memfasilitasi dengan kordinasi yang baik antara Depdag, Departemen Sektoral, bea cukai dan pajak sehingga membentuk trade facilitation yang diperlukan.Juga diperlukan sosialisasi agar dari industri sendiri bisa memenuhi syarat tersebut kalau tidak bisa memenuhi mereka sendiri yang rugi tidak bisa mengekspor.Yang jadi masalah biasanya ada 1-2 perusahaan eksportir yang nakal, tapi yang lain kena imbas. Kita menyadari ada segelintir yang nakal dan disadari karena sistem yang kurang baik. Maka dari itu kini sedang diperbaiki dan memberi sanksi pada perusahaan-perusahaan nakal tersebut. Kita minta pada negara importer agar perusahaan yang bonafid jangan diganggu. Itu juga menjadi pekerjaan baru kita dengan melobi negara importir tentang hal ini.Khusus pertemuan WTO, hal positif apa yang telah dicapai indonesia dan apa yang dianggap gagal diraih?Menurut saya, saat ini terlalu dini untuk mengatakan pertemnuan WTO Hong Kong gagal atau berhasil yang perlu dilihat adalah net benefit. Dari kacamata pribadi, pertemuannya sudah merupakan plus point karena kalau pertemuan dinyatakan gagal berarti ada 3 kali gagal berturut-turut dari pertemuan sebelumnya.Kalau sampai terjadi WTO, akan diragukan dan semua pihak akan ignore. Seperti WTO dispute settlement tidak diindahkan. Itu berbahaya bagi negara kecil karena larinya perdagangan dunia ke sistem bilateral padahal yang paling menguntungkan kita adalah multilateral.Sebagai kordinator G33 kekompakan negara-negara berkembang dalam mengangkat isu pembangunan dengan memperjuangkan isi special product dan special safeguard mechanism merupakan suatu keberhasilan. Karena kita juga bergabung dengan G20, G90 dan less development country yang padahal masing-masing punya misi yang diperjuangkan.Tidak bisa dikatakan rugi kalau kita ingin adanya akses pasar dari negara lain. Sebaliknya kita juga harus buka pasar utamanya memenuhi komitmen WTO. Hasil utama dianggap kemajuan dibanding draft Genewa yakni sebelum pertemuan Hong Kong adanya dateline penghapusan subsidi ekspor pada tahun 2013 untuk produk pertanian, meski banyak Negara minta 2010.Dalam pertemuan lalu kita diminta turunkan bound tariff. Kita maunya dari 40 persen menjadi 20 persen karena dengan kisaran itu masih ada ruang gerak 10-15 persen. Ini memang harga yang harus kita bayar dan kita minta jangka waktu penurunan yang fleksibel yaitu lebih lama dari negara maju. Penentuan standar seperti rules of origin sampai saat ini belum dibahas di WTO. Rencananya akan diminta dibahas di pertemuan WTO lanjutan pada April 2006. Kita minta ada disiplin bila memakai instrumen proteksi ini oleh Negara maju. Kita minta prosedur yang simpel dalam special safeguard mechanism. Selama ini pembuktiannya harus melalui volume trigger, artinya ada sejumlah volume impor yang masuk lalu terbukti harga dalam negeri jatuh pembuktiannya sangat sulit di Indonesia apalagi banyaknya pelabuhan.Belum selesai menghitung dampak negatif sudah kena. Maka kami minta bukan hanya volume trigger tapi juga price trigger sudah disetujui tinggal negosiasi mekanismenya.Special product (SP) yang dipastikan masuk dari Indonesia adalah beras dan gula. Sebelum saya jadi menteri jagung dan kedelai termasuk special product. Untuk itu kita akan terus negosiasi.Target ekspor 2006?Non migas minimal tumbuh 6-8 persen. Namun untuk pertumbuhan ekspor secara keseluruhan tergantung harga dan produksi minyak. Porsi minyak dalam ekspor 25 persen apabila asumsi harga dan produksi akan terkejar minimal YoY pertumbuhan ekspor keseluruhan 9 persen. Namun kalau maksimal sulit diperkirakan tergantung investasi.Demi mendorong investasi kita berperan lintas sektoral berusaha menuyusun konsep bersama untuk perbaiki peraturan seperti UU penanaman modal dan penyederhanaan pemberian izin dan lisensi.
(qom/)











































