Orang Miskin di RI Tambah Banyak, di Wilayah Mana?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2020 15:00 WIB
Warga beraktifitas di kawasan pemukiman padat penduduk, Petamburan, Jakarta, Selasa (19/07/2016). Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2016 mencapai 28,01 juta orang dan angka ini sekitar 10,86 persen dari jumlah penduduk nasional. Grandyos Zafna/detikcom
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka penduduk miskin mengalami peningkatan. Per Maret 2020 jumlah penduduk miskin tercatat 26,42 juta bertambah 1,63 juta orang terhadap September 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan peningkatan ini terjadi karena dampak tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Dia menjelaskan dari sisi jumlah sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa sebanyak 14,05 juta orang. Sedangkan penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan sebanyak 0,97 juta orang.

"Penduduk hampir miskin sekitar 7,45% atau 19,91 juta orang berada di Jawa dan Bali karena padat penduduk. Karakteristik mereka adalah yang bekerja di sektor informal karena tidak ada safety dan rentan jatuh miskin," kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/7/2020).

Menurut dia, mayoritas provinsi mencatat kenaikan kemiskinan. Misalnya DKI Jakarta naik 1,11%, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dia menjelaskan sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2019-Maret 2020 antara lain antara lain pandemi COVID-19 yang berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk akan mendorong terjadinya peningkatan angka kemiskinan.

Kemudian pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal I 2020 mengalami pertumbuhan yang melambat. Pengeluaran konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang sebesar 5,02%.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 64,11% dibandingkan Maret 2019. Meskipun pemerintah secara resmi mengumumkan kasus COVID-19 pada Maret 2020, namun sektor pariwisata dan pendukungnya sudah mulai terdampak sejak bulan Februari 2020.

Lalu pada periode September 2019-Maret 2020, secara nasional harga eceran beberapa komoditas pokok mengalami kenaikan, antara lain beras (1,78%), daging ayam ras (5,53%), minyak goreng (7,06%), gula pasir (13,35%), dan telur ayam ras (11,10%).

Rata-rata pengeluaran per kapita pada Desil 1 periode September 2019-Maret 2020 mengalami peningkatan sebesar 1,67% namun peningkatannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan GK yang sebesar 3,20%.

Kemudian penduduk hampir miskin yang bekerja di sektor informal mencapai 12,15 juta orang (Susenas, Maret 2019). Kelompok ini merupakan kelompok penduduk yang rentan terhadap kemiskinan dan paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19.



Simak Video "Sri Mulyani Sebut Jumlah Penduduk Miskin di Kota Meningkat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)