Jokowi Bilang Kalau RI Lockdown Ekonomi Bisa -17%, Benarkah?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 16 Jul 2020 13:00 WIB
Imbauan dan sanksi sosial terus dilakukan kepada pedagang-pembeli di pasar tradisional. Nah, salah satunya di Pasar Tumpah, Jakarta Utara.
Suasana PSBB. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa beruntung karena hanya mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menghadapi pandemi virus Corona, bukan lockdown. Sebab, jika Indonesia lockdown diperkirakan ekonomi akan terkontraksi dobel digit hingga -17%.

"Saya nggak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17%," tutur Jokowi di Istana Presiden Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7/2020).

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual membenarkan jika sebuah negara tidak ada aktivitas sama sekali (lockdown) memang akan berpengaruh terhadap ekonomi yang terperosok lebih dalam.

"Memang kalau nggak ada aktivitas sama sekali, nggak ada mobilitas tentunya pengaruhnya ke ekonomi akan makin dalam. Kalau sekarang kan kita prediksi masih yang kuartal II ini penurunan ekonominya itu memang kemungkinan besar minus, tapi tidak akan dobel digit. Perkiraan kita masih single digit karena waktu PSBB kita masih ada mobilitas paling nggak untuk ke warung itu masih boleh untuk beli makanan, walaupun aktivitasnya minim sekali," kata David kepada detikcom, Kamis (16/7/2020).

Namun pertumbuhan ekonomi diyakini tidak akan terperosok dalam karena pertumbuhan ekonomi Indonesia dominannya disumbang oleh kebutuhan pokok yang masih diperlukan.

"Dari sisi belanja masyarakat kita kan belanjanya masih belanja barang-barang bahan pokok barang-barang yang esensial. Ini beda dengan negara-negara maju yang konsumsinya dominan 80% yang non esensial. Jai kalau turun konsumsinya itu turunnya makanya dalam," imbuhnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad. Menurutnya, Jokowi terlalu membesar-besarkan penurunan ekonomi Indonesia yang bisa sampai minus 17% jika menerapkan lockdown.

"Sepertinya Pak Presiden terlalu membesar-besarkan hal tersebut karena memang kemungkinan dananya tidak tersedia untuk melakukan lockdown. Minus ya minus sepanjang tahun, ya terburuk itu kalau kita tidak melakukan sesuatu sampai akhir tahun itu sampai minus 2%, minus 3%, tapi tidak akan sampai minus 17%," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2