Gubernur BI : Kebijakan Ekonomi 2006 Harus Solid dan Terencana
Minggu, 01 Jan 2006 10:46 WIB
Jakarta -
Belajar dari pengalaman tahun 2005 yang penuh kesulitan dan cobaan dalam perekonomian di Indonesia, di tahun 2006 perlu ditumbuhkan kebijakan ekonomi yang terencana, solid, konsisten, dan koheren. Prestasi ekonomi di tahun 2005 tidaklah terlalu buruk, namun jika dinamika perekonomian selalu dijaga, tidak mustahil akan tumbuh lebih baik lagi.Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanudin Abdullah di Istana Cipanas, Jawa Barat, Minggu (1/01/2006). "Di akhir tahun sekarang setelah dilakukan hitung-hitungan ternyata 2005 bukanlah tahun yang terlalu buruk. Bahkan prestasi ekonomi di sana sini, dapat dibanggakan. Pertumbuhan ekonomi 5,5 persen dengan kesempatan kerja yang mulai terbuka, berdasar catatan saya, kesempatan kerja bertambah 1,2 juta," kata Burhanudin.Menurut Burhanudin dengan pertumbuhan ekonomi tersebut jumlahnya terlalu kecil utuk dapat menyerap keseluruhan pengangguran dan angkatan kerja baru. "Tapi itu sudah menunjukkan dinamika perekonomian kita, asal selalu dijaga dapat kita bawa ke 2006, tidak mustahil tumbuh lebih baik lagi," ujarnya.Selain itu, mengenai kebijakan menaikkan harga BBM, menurutnya langkah tersebut sudah tepat. Karena jika tidak dinaikkan inflasi akan tetap terjadi tapi datangnya dari sektor lain. "Yaitu merosotnya cadangan devisa dan nilai tukar kita," jelas Burhanudin.Mengenai pandangan BI tentang perekonomian 2006, Burhanudin mengatakan akan menyiratkan kembali amplifikasi dan pentingnya kebijakan ekonomi yang terencana, solid, konsisten dan koheren. "Karena berbagai faktor-faktor eksternal belum banyak membantu kita. Ada semacam resiko terhadap harga minyak yg mungkin tidak terlalu stabil seperti kita pikirkan. Pertumbuhan ekonomi dunia juga belum terlalu membantu. Harga komoditi juga akan mengalami penurunan.Ini mengisyaratkan kita harus makin aktif dan solid dalam membangun ekonomi domestik," kata Gubernur BI. Kebijakan Moneter Sedangkan dari sisi moneter, menurut Burhanudin sampai semester I 2006 kewaspadaan tetap ditingkatkan. Baru setelah itu ada tanda-tanda semua itu bisa diserahkan pada dinamika pasar. Sehingga pasar bisa merespons untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi semester II 2006."Kebijakan moneter semester pertama, kita jaga suku bunga supaya bisa bawa kembali dan mantapnya stabilitas moneter dan makro ekonomi," jelasnya.Setelah kuartal II, kata Burhanudin, Bank Indonesia akan melihat dari sisi internasional apakah ada pengetatan suku bunga The Fed yang mulai mereda. Kalau itu benar terjadi, maka di dalam negeri akan memiliki ruang cukup untuk kembali coba meredakan pengetatan dan menurunkan BI rate.Menurutnya kemungkinan tersebut akan menstimulasi perekonomian. Stimulasi perekonomian dimulai dari penurunan BI rate yang kemudian diikuti penurunan suku bunga pinjaman.
(mly/)










































