Bagaimana Nasib RI Kalau Terjadi Resesi?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 18 Jul 2020 16:30 WIB
SINGAPORE - DECEMBER 05:  Tourists ride the river boat along Boat Quay on December 5, 2013 in Singapore. The riverside at Boat Quay, Clarke Quay and Robertson Quay are decorated with Christmas decorations and will also feature interactive Christmas themed events and activities during the Christmas by the River event which runs from 15 November 2013 to 22 December 2013.  (Photo by Suhaimi Abdullah/Getty Images For Singapore River One)
Foto: Suhaimi Abdullah
Jakarta -

Perekonomian global terus merosot akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Bahkan, negara tetangga Singapura sudah jatuh ke jurang resesi yang mengakibatkan ancaman resesi semakin nyata.

Resesi yang bisa memberikan dampak besar bagi masyarakat harus diantisipasi. Pasalnya, dampak itu bisa berupa penurunan pendapatan masyarakat, dan angka kemiskinan dan ketimpangan yang semakin tinggi.

"Ketika resesi terjadi pasti yang terdampak adalah masyarakat kelas bawah atau miskin itu langsung tidak punya pendapatan. Kalau masyarakat kelas atas itu masih ada bidang usaha yang masih bisa dikerjakan. Tapi masyarakat kelas bawah itu akan sulit mendapatkan pekerjaan baru. Dan implikasinya adalah ketimpangan semakin tinggi," kata Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad kepada detikcom, Sabtu (18/7/2020).

Kondisi itu pun bisa menimbulkan gejolak sosial yang dapat mengancam keselamatan rakyat Indonesia sendiri. "Jadi secara psikologis masyarakat terlihat jelas mulai banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan banyak terjadi gejolak sosial, misalnya timbulnya angka kriminalitas yang tinggi. Ini yang harus diwaspadai," jelas Tauhid.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, ada catatan tersendiri dengan ancaman resesi ekonomi ini. Secara tegas, ia tak mau memperdebatkan potensi resesi atau tidak, namun menurutnya kondisi perekonomian saat ini sudah harus diwaspadai.

"Bahkan ketika pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I-2020 masih bagus 2,97%, angka kemiskinan meningkat. Bagaimana bisa kalau pertumbuhan ekonomi turun di kuartal II-2020 dan dioprediksi terkontraksi 5%? Berapa banyak orang yang menjadi miskin? Berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan?" kata Yose kepada detikcom.

Ia mengatakan, saat ini pun dunia usaha yang menjadi penopang lapangan pekerjaan masyarakat mulai kehilangan napasnya.

"Dunia usaha sudah kehilangan napas. Mereka sudah tidak punya modal kerja, orang-orang berhati-hati membelanjakan uangnya, orang sudah banyak kehilangan pekerjaan," ungkap Yose.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Tips JK Selamatkan Ekonomi RI dari Resesi"
[Gambas:Video 20detik]