3 Kondisi Transportasi di Tengah Merebaknya Corona

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2020 22:30 WIB
Antrean penumpang terjadi di Stasiun Bekasi, Jawa Barat. Antrean mengular karena adanya pembatasan jumlah penumpang di setiap rangkaian kereta.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah berupaya memulihkan sektor transportasi yang mengalami tekanan di tengah pandemi COVID-19. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi saat memberikan keynote speech pada acara diskusi virtual "Transportasi Publik dan Geliat ekonomi pada masa Pandemi, di Jakarta, Rabu (22/7).

"Saat ini kami terus mencari rumusan kebijakan yang pas yang memperhatikan keseimbangan antara dua pihak yaitu konsumen dan perusahaan transportasi. Bagaimana konsumen bisa bertransportasi dengan aman dan sehat, dan bagaimana perusahaan transportasi dapat tetap bertahan dan beroperasi di masa pandemi ini dengan sejumlah aturan protokol kesehatan seperti : pembatasan kapasitas penumpang, dan sebagainya," jelas Budi Karya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2020).

Pada kesempatan itu, Budi Karya juga meng-update kondisi sektor transportasi pada masa pandemi COVID-19. Berikut kondisinya:


(1) Transportasi udara sempat terpuruk

Di sektor perhubungan udara secara global sangat terdampak oleh pandemi Covid-19, termasuk Indonesia, di mana jumlah penumpang pesawat menurun tajam sejak triwulan pertama 2020. Kemudian pada Juli 2020 performanya mulai meningkat dengan pergerakan pesawat meningkat 42%.

Peningkatan itu terwujud setelah sejumlah upaya-upaya bersama antar stakeholder penerbangan dan juga dengan pihak terkait seperti Kemenkes dan Gugus Tugas seperti: penambahan kapasitas maksimal penumpang pesawat menjadi 70 persen, perpanjangan masa berlaku rapid tes/pcr tes dari 3 hari menjadi 14 hari, pengisian Health Alert Card secara online, dan lain-lain.

(2) KRL paling diminati

Pada transportasi perkotaan seperti KRL Jabodetabek minat penumpang tetap tinggi meski pengendalian transportasi melalui penerapan protokol kesehatan sudah dilakukan, seperti pembatasan kapasitas maksimal penumpang dalam satu gerbong, dan sebagainya.

(3) Penyediaan armada alternatif

Sejumlah upaya dilakukan untuk menyediakan armada alternatif selain KRL, seperti bus dan upaya pemberlakuan jam kerja yang tidak berbarengan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya demi mengurangi kepadatan.


Budi Karya menambahkan pemerintah tetap menjalankan pengendalian transportasi dengan mengedepankan penerapan protokol kesehatan pada sarana dan prasarana transportasi selama masa adaptasi kebiasaan baru. Di satu sisi Kemenhub berupaya agar industri transportasi dapat kembali pulih, sementara di sisi lain Kemenhub juga berupaya membangun kembali kepercayaan masyarakat untuk bertransportasi dengan aman dan sehat.

"Upaya-upaya maupun terobosan yang dilakukan itu tidak cukup hanya mengandalkan Pemerintah Pusat, tetapi perlu kolaborasi yang baik antara Kementerian/Lembaga, Pemda, pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat," tutur Budi Karya.



Simak Video "Menhub Imbau Warga Tak Serentak Mudik Pada 27-28 Oktober"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/dna)