Australia Diprediksi Susul Singapura dan Korsel Masuk Jurang Resesi

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 23 Jul 2020 16:38 WIB
Festival tahunan Vivid Sydney kembali digelar kota Sydney, Australia. Warna-warni lampu nampak memukau menghias bangunan Sydney Opera House. Penasaran?
Foto: Mark Metcalfe/Getty Images
Jakarta -

Australia mengumumkan pertumbuhan ekonomi negara akan menyusut dan defisit anggaran akan menjadi yang terbesar sejak perang dunia. Kondisi ini terjadi karena dampak pandemi virus Corona (COVID-19).

Dilansir AFP, Kamis (23/7/2020), pemerintah mengatakan produk domestik bruto (PDB) Australia akan terkontraksi 7% pada kuartal II atau periode April-Juni. Kontraksi ini akan mendorong Australia masuk jurang resesi ekonomi untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade.

Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan defisit anggaran akan melonjak menjadi US$ 132 miliar atau setara Rp 1.914 triliun (kurs Rp 14.500/US$).

"Angka-angka kasar ini mencerminkan kenyataan pahit yang kita hadapi. Prospek ekonomi tetap sangat tidak pasti," kata Frydenberg.

Tingkat pengangguran Australia saat ini tertinggi selama dua dekade yakni sebesar 7,4%. Angka ini dinilai akan terus bertambah dan mencapai puncaknya pada 9,3% di Desember.

Pemerintah memperkirakan pemulihan pada kuartal III-2020 karena pelonggaran pembatasan wilayah membawa peningkatan aktivitas.

Frydenberg juga memperkirakan PDB akan tumbuh 2,5% pada 2021. Perhitungan ini berdasarkan asumsi bahwa perbatasan internasional akan dibuka mulai 1 Januari.



Simak Video "Tips JK Selamatkan Ekonomi RI dari Resesi"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)