Sentilan Susi dan Alasan Nasib Nelayan di Balik Ekspor Benih Lobster

Sentilan Susi dan Alasan Nasib Nelayan di Balik Ekspor Benih Lobster

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 24 Jul 2020 08:30 WIB
30 Ribu Benih Lobster Selundupan Dilepas Kembali ke Kampung Susi
Foto: Dok. KKP
Jakarta -

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak semua pihak untuk memakai akal sehatnya terutama terkait kelestarian ekosistem laut. Menurutnya, pihak yang tak menjaga hasil lautnya sendiri terutama yang terkategori plasma nutfah seperti benih bening lobster atau benur lobster adalah orang yang kufur terhadap nikmat tuhan.

"Kita bicara akal sehat. Kalau plasma nutfah yang kita baru bisa produksi sendiri tidak jaga, saya percaya itu yang dinamakan kufur sama nikmat tuhan," ujar Susi dalam diskusi virtual Bahtsul Masail bertajuk 'Telaah Kebijakan Ekspor Benih Lobster', Kamis (23/7/2020).

Menurut Susi, Indonesia bisa menjadi negara besar kalau sumber daya lautnya dijaga dan dikelola dengan benar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebetulnya Indonesia akan menjadi negara besar kalau lautnya bisa dikelola," tambahnya.

Ia meyakini, sumber daya laut begitu bernilai melebihi sumber daya lain seperti tambang dan minyak. Sebab tidak akan pernah ada habisnya selama dijaga dengan baik.

ADVERTISEMENT

"Bukan seperti tambang, bukan minyak, yang kalau diambil lama-lama habis, selesai dan itu perlu modal besar, tapi kalau nature resources renewable seperti ikan, udang di laut ini adalah kita tidak perlu orang asing, tidak perlu kapal asing, tidak perlu apa dari asing, rakyat bisa (mengelola)," katanya.

Jika pemerintah mau tetap melarang ekspor benur lobster, justru bisa membuat rakyat sejahtera. Sebab, harga lobster dewasa bisa sangat mahal dibandingkan menjual benur lobster.

"Kenapa kita harus ambil bibitnya, udah gitu pakai kuota eskpor lagi. Kemudian harganya lagi, dulu waktu saya larang harganya Rp 30 ribu bahkan sampai Rp 60 ribu bibit lobsternya dari nelayan, sekarang setelah dilegalkan diatur dengan kuota nelayan cuma dapat Rp 7-15 ribu. Nanti sama seperti bawang putih seperti beras, dijual murah tapi kita harus impor, sehingga ketahanan pangan tidak ada lagi," tuturnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Kebalikan dari Susi, Menteri KKP saat ini, Edhy Prabowo justru membuka kembali keran ekspor benur lobster tersebut yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri KKP Nomor 12/Permen-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Merespons sikap penolakan Susi tersebut, KKP pun buka suara. Menurut Staf Khusus Menteri KKP, TB Ardi Januar, wajar saja bila Susi memiliki perbedaan pendapat dengan Menteri KKP Edhy Prabowo dan pihaknya pun mengaku terbuka dengan semua kritikan yang masuk. Namun, alasan utama Edhy membuka kembali izin ekspor komoditas laut tersebut semata-mata untuk kesejahteraan nelayan.

"Kita boleh beda pendapat, ini biasa dalam demokrasi tapi yang melatarbelakangi pak Edhy Prabowo menerbitkan Permen ini adalah perut nelayan terlebih dahulu," ujar TB Ardi dalam sebuah webinar yang juga dihadiri Susi.

Menurut Ardi sejak diterbitkannya Permen-KP No.12/2020 itu, respons nelayan sangat positif, buktinya, sampai saat ini tidak ada nelayan yang demo ke KKP.

"Alhamdulillah, sejak diterbitkan Permen ini, nelayan sangat bahagia, pasca diterbitkan Permen ini, Edhy Prabowo terus melakukan kunjungan ke beberapa daerah dan sambutan nelayan itu sangat positif, kita memiliki banyak sekali dokumentasi yang dari nelayan langsung, yang sangat mengapresiasi malah kekhawatiran-kekhawatiran merugikan nelayan. Sampai saat ini belum ada nelayan yang melakukan protes atau menggelar demonstrasi (demo) ke KKP menolak Permen ini belum ada," ungkapnya.

Ardhi menambahkan, pihaknya terbuka atas perbedaan pendapat bahkan mengajak semua pihak mengawasi jalannya aturan tersebut.

"Jadi ya Permen ini sudah berjalan sudah dibuka, mari kita awasi sama-sama, kita sangat terbuka," tangkasnya.



Simak Video "Sosok Ekonom Faisal Basri Dalam Kenangan Susi Pudjiastuti"
[Gambas:Video 20detik]

Hide Ads