Balada Perencana Keuangan Jouska 'Jualan' Saham Berujung Teriakan Klien

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 24 Jul 2020 14:39 WIB
Ilustrasi Uang Rupiah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Perencana keuangan Jouska Indonesia tengah viral di dunia maya. Para kliennya yang merasa dirugikan mengungkap cara kerja perusahaan tersebut.

Bagaimana ceritanya? Yuk disimak.

1. Klien Rugi hingga Puluhan Juta Rupiah

Akun Twitter Alvin Alvin atau @yakobus_alvin yang paling getol memposting permasalahan ini. Selain mengaku menjadi korban, dia juga membendung keluhan nasabah Jouska Indonesia lainnya yang kemudian dia posting melalui akunnya.

"Ramenya. Beberapa sudah banyak yang DM dgn kasus serupa. Sy ijin share ya. Kasus ky gni kayak gni saya yakin banyak sekali tapi malas atau gatau gimana melapor. Sy lapor ke @ojkindonesia juga gak ada tanggapan waktu itu," tulisnya.

Kebanyakan dari keluhan para nasabah itu sama, Jouska Indonesia memiliki akses untuk mengelola portofolio investasi saham para kliennya.

Padahal Jouska Indonesia adalah perencana keuangan yang berlaku hanya memberikan perencanaan keuangan kliennya dan diharamkan mengelola langsung dana kliennya.

Anehnya, rata-rata para klien Jouska mengeluhkan hal yang sama. Dana investasinya dibelikan saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK). Pembelian juga dilakukan saat LUCK pertama kali mencatatkan sahamnya atau IPO pada akhir 2018.

Padahal saham IPO sangat berisiko lantaran belum diketahui kinerja fundamental perusahaannya. Saham ini memang sempat menguat tinggi hingga Rp 2.000-an, tapi sekarang nilai saham menyusut drastis tinggal Rp 312 per lembar saham.

Menariknya lagi, rata-rata nasabah yang mengeluh itu mengaku sudah meminta Jouska untuk menjual saham itu. Namun permintaan itu tidak dilakukan dan akhirnya mereka mengalami kerugian. Ada yang portofolio investasinya turun Rp 30 juta, Rp 50 juta hingga mencapai Rp 100 juta.

2. Perencana Keuangan Boleh Merangkap Manajer Investasi?

Chairman & President Asosiasi Perencana Keuangan IARFC (International Association of Register Financial Consultant) Indonesia Aidil Akbar Madjid menjelaskan tugas dan fungsi perencana keuangan hanya membuat perencanaan investasi dan mengedukasi kliennya.

"Jadi financial planner tidak boleh mengelola dana nasabah. Karena kalau mau mengelola dana nasabah harus memiliki izin khusus," ujarnya kepada detikcom, Rabu (22/7/2020).

Memang mengelola dana nasabah hingga melakukan transaksi di pasar modal dan instrumen lainnya merupakan fungsi dari manajer investasi. Namun harus memiliki sertifikat wakil manajer investasi (WMI). Sementara untuk perorangan harus memiliki sertifikat Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE)

"Kalau pun punya itu dia nyantolnya kemana, karena untuk punya izin WMI dan WPPE harus nyantol ke perusahan efek bisa ke MI atau sekuritas," terangnya.

Sementara perencana keuangan adalah independen dan firmanya adalah perencana keuangan yang tidak terikat atau terafiliasi dengan institusi atau produk keuangan manapun. Jika dia berlaku mengelola dana nasabahnya maka dia sudah tidak independen.

"Pertanyaannya dia independen atau pengelola dana? dua-duanya salah. Kalau ngaku independen salah, kalau pengelola dana ya lebih salah lagi. Karena perencana keuangan dari dulu diwanti-wanti kita tidak boleh mengelola dana atau melakukan trading nasabah meskipun diberikan kuasa penuh," tegasnya.

Lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2 3