Nasib Bisnis Ritel hingga Hotel di Pusaran Pandemi

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 26 Jul 2020 18:46 WIB
Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung resmi dilantik menjadi dewan kehormatan PMI 2019-2024. Berikut foto-foto momennya.
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Nasib industri ritel dan perhotelan berada di pusaran pandemi COVID-19. Menurut Founder & Chairman CT Corpora, Chairul Tanjung (CT) sektor bisnis tersebut menjadi salah satu yang paling terdampak negatif akibat merebaknya virus Corona.

"Saya ambil contoh, misalnya tentu kita mempunyai usaha di bidang ritel, Bapak/Ibu tahu kita memiliki mulai dari superstore, hypermarket, departement store, sampai toko-toko spesialis, F&B dan lain sebagainya. toko-toko ritel ini mendapatkan efek yang negatif," kata CT dalam Talkshow Virtual 'Menjaga Semangat, Membangun Asa, Indonesia Jaya', Minggu (26/7/2020).

Dampak negatif itu, dijelaskannya karena daya beli masyarakat turun sehingga konsumsi mereka juga berkurang.

Lalu faktor berikutnya karena orang-orang takut untuk melakukan belanja secara langsung sehingga sebagian masyarakat berbelanja secara online. Menurutnya mayoritas masyarakat juga melihat pandemi ini tidak jelas sampai kapan berlangsung sehingga mereka lebih memilih menyimpan uangnya (saving) ketimbang belanja (consuming).

"Jadi consuming seadanya, saving-nya diperbesar. Nah ini membuat sedemikian rupa. Berarti spending konsumsi kita akan menjadi semakin berkurang. Efeknya tentu berakibat pada bisnis-bisnis yang terkait dengan direct consumption," ujarnya.

Lalu sektor bisnis yang berkaitan dengan hiburan yang juga terdampak cukup parah akibat pandemi COVID-19.

CT yang memiliki unit usaha perhotelan, shopping mall, taman bermain dan lain sebagainya ikut merasakan dampak dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB ini dilakukan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona.

"Nah ini kan kita tahu bahwa waktu PSBB kemarin shopping mall harus ditutup. Kita tahu juga theme park juga ditutup. Hotel ya relatif juga nggak ada traveller karena orang takut bepergian, jadi akibatnya okupansi hotel juga sangat turun dengan sangat drastis. Nah ini semuanya berakibat negatif," terangnya.

Namun dia menjelaskan tidak semua sektor usaha terdampak negatif. Bank yang dimiliki oleh CT Corpora dia akui mendapatkan dampak positif.

"Khususnya yang berdampak positif adalah di sektor perbankan. Kenapa dia berefek positif? karena kebetulan perbankan kami itu memang melakukan bisnis dengan sangat konservatif," sebutnya.

Dia mengatakan, posisi loan to deposit ratio (LDR) di bank miliknya, lebih banyak uang yang ditaruh masyarakat di bank dibandingkan uang yang disalurkan kepada masyarakat.

"Akibatnya dalam keadaan krisis orang selalu bilang cash is the king. Siapa yang memiliki uang dia yang akan menjadi raja. Nah karena LDR kami rendah, tadi, akibatnya kami memiliki uang cash yang besar. Karena cash is the king maka return-nya menjadi lebih besar lagi," tambahnya.



Simak Video "CT Soroti Dampak Corona Dibanding Krisis 1998 di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)