Efek Samping Jika Internet buat Belajar di Rumah Tak Disubsidi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 27 Jul 2020 12:26 WIB
Seorang murid sekolah dasar (SD) belajar melalui siaran streaming TVRI di rumahnya, di Padang, Sumatera Barat, Senin (13/4/2020). Kemendikbud resmi meluncurkan program Belajar dari Rumah bersama TVRI mulai Senin hingga Jumat, dengan total durasi tiga jam per hari untuk semua tayangan sebagai alternatif belajar di tengah pandemi virus korona (COVID-19). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Subsidi kuota internet untuk kegiatan pendidikan dinilai perlu dilakukan pemerintah. Hal itu dilakukan agar tak menggerus daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menjelaskan, pemerintah sendiri telah memberikan bansos untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi virus Corona. Namun, dia mengatakan, kebutuhan internet untuk belajar dari rumah tak kalah penting.

"Kalau sekarang kebutuhan katakanlah mereka dapat bansos, masyarakat miskin katakan paling tinggi Rp 600 ribu, tapi per bulan untuk biaya internet satu siswa bisa lebih dari Rp 200 ribu itu kalau satu anak. Kalau berapa anak bayangkan itu karena kuotanya besar," ujarnya kepada detikcom, Senin (27/7/2020).

Menurutnya, pemerintah mesti menyiapkan subsidi kuota internet. Jika tidak, kata dia, akan menggerus daya beli masyarakat.

"Kedua tentu saja kalau ini tidak diberikan itu akan menggerus daya beli masyarakat yang seharusnya bisa dibeli untuk konsumsi," ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam kondisi seperti ini memang perlu realokasi besar-besaran untuk mendorong konsumsi masyarakat yang menjadi motor penggerak utama ekonomi. Jika bansos diberikan namun masyarakat mengeluarkan dana yang besar untuk membeli kuota internet, maka akan menjadi masalah.

"Kalau misalnya sudah ada bansos belajar daring sementara pulsa mahal menurut saya jadi masalah," ungkapnya.

Sementara, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, di masa pandemi virus Corona pemerintah mesti sigap dan bekerja ekstra untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Hal itu seperti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan bekerja dari rumah (work from home/WFH).

Dia menuturkan, saat PJJ sejumlah permasalahan muncul dan perlu penanganan pemerintah.

"Dan dengan PJJ terlihat banyak permasalahan seperti akses listrik yang tidak ada, akses internet yang belum tersedia, juga akses internet yang lambat dan tidak stabil. Kalaupun ada akses, tidak semua memiliki perangkat ponsel dan laptop serta pulsa. Para Menteri harus sigap mengatasi hal tersebut," ujarnya.

"Nah Menkominfo harus turun ini ke desa-desa segera pasang jaringan internet, memberikan sumbangan laptop dan ponsel serta mengajak operator telekomunikasi dan penyelenggara internet berdonasi memberikan akses internet gratis," tambahnya.



Simak Video "Keluh Kesah Kepsek dan Wali Murid soal Susahnya Kuota untuk PBJJ"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/ara)