Bagaimana RI Genjot Realisasi Investasi di Tengah Pandemi?

- detikFinance
Senin, 27 Jul 2020 14:50 WIB
Siluet pegawai dan tamu di depan logo Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Pandemi COVID-19 memiliki dampak yang negatif terhadap realisasi investasi di Indonesia. Jika tidak ditangani dengan baik, ekonom mengkhawatirkan, realisasi investasi tidak akan mencapai target yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, nilai realisasi investasi di kuartal II-2020 sebesar Rp 191,9 triliun. Perinciannya, sebesar Rp 94,3 triliun merupakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sementara sebesar Rp 97,6 triliun merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 97,6 triliun.

Dibandingkan periode sama tahun lalu, total nilai investasi di kuartal II-2020 turun sebesar 4,3%. Realisasi PMA turun lebih dalam, yakni sebesar 6,9%. Sementara jika dibandingkan kuartal I-2020, realisasi investasi di kuartal II-2020 turun hingga 8,9%. PMDN tercatat anjlok hingga 16,4%.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengakui, pencapaian realisasi investasi di kuartal II-2020 di bawah target yang ditetapkan yakni di atas Rp 200 triliun. Tidak tercapainya target realisasi investasi di kuartal II ini disebabkan karena pandemi COVID-19.

"Harus kami akui, triwulan II ini periode yang sangat berat karena kondisi COVID-19," ujar Bahlil dalam konferensi pers secara daring, kemarin, Rabu (22/7).

Menurut Bahlil penurunan realisasi investasi asing disebabkan ekonomi global yang sedang lesu akibat dampak wabah virus Corona bukan karena investor asing tidak percaya dengan Indonesia. Untuk mencapai target tahun ini, Bahlil mengatakan, BKPM akan terus mengejar investor yang telah menyatakan komitmen untuk menanamkan modal di Indonesia.

Terpisah, peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan bahwa hal yang tak kalah penting adalah perlu ada insentif yang ditawarkan untuk menarik investasi. Dengan demikian Indonesia memiliki peluang yang sama dengan negara lain di mata investor.

Misalnya saja Vietnam yang memberikan kemudahan regulasi investasi, biaya ekspor yang lebih efisien, sampai infrastruktur yang dipersiapkan untuk mendukung industri.

"Kalau kebijakan mereka itu bagus, kenapa kita tidak copy paste saja," ujar Enny.

Selanjutnya
Halaman
1 2