3 Hal yang Perlu Diketahui soal Aksi Orang RI Borong Brompton ⁩

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 30 Jul 2020 19:00 WIB
Operasi Patuh Jaya 2020 tak hanya berlaku bagi kendaraan bermotor. Para pesepeda yang melanggar aturan lalu lintas juga akan ditindak di operasi ini.
Foto: Antara Foto

2. Orang RI Beli Brompton Online Rp 58 Juta

Orang asing yang curhat di media sosial itu mengaku tidak keberatan dengan gerakan borong Brompton ini. Bahkan hal ini menguntungkan untuknya, dia bercerita, sepeda Brompton Explore-nya sendiri baru saja laku terjual US$ 4 ribu atau sekitar Rp 58 juta (dalam kurs Rp 14.500).

Dia juga bercerita kenalannya sedang mencari 15 sepedaBrompton baru untuk diboyong ke Indonesia. Demi uang, semua tak masalah untuknya.

3. Ekonom Nilai Demam Borong Brompton Tak Tepat Saat Pandemi

Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menyoroti fenomena ini sangatlah tidak pas di tengah pandemi Corona yang belum surutnya menghantam Indonesia. Di satu sisi orang kaya bisa bersenang-senang memenuhi gengsinya membeli Brompton, namun di sisi lain banyak orang yang makin sulit hidupnya di tengah pandemi.

"Fenomena ini memang biasa saja, cuma tidak pas di tengah pandemi. Di tengah pandemi ini sebagian masyarakat lagi kehilangan pekerjaan, pendapatan, banyak yang kena PHK nggak dapat income. Sementara di sisi lain ada orang belanja untuk main-main, harganya gila-gilaan," kata Piter kepada detikcom, Selasa (28/7/2020).

Kejadian ini menurut Piter menjadikan jurang kesenjangan sosial makin melebar dan nyata terlihat. "Fenomena ketidakmerataan ini jadi makin terasa, dan lebih lebar di wabah COVID ini," ujarnya.

Sementara itu, kalau dilihat dari manajemen keuangan, perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan kalau niatnya membeli barang, dalam hal ini Brompton cuma karena demi gengsi dan mengikuti tren disebut kurang tepat.

"Kalau cuma buat ikuti tren aja, hitung-hitungan perencana keuangan sih ya nggak tepat. Kalau cuma 3 bulan tren nggak sepedaan lagi ya belum tentu worth it," kata Andy kepada detikcom.

Namun, Andy mengatakan semua kembali lagi ke kondisi keuangan setiap orang. Dia menekankan dalam menata keuangan setiap orang harus mampu mengukur kemampuannya. Dalam kasus membeli Brompton, bila mampu tidak masalah membelinya, namun jangan memaksakan diri.

"Jadi harus mampu ukur kemampuan ya. Memang tergantung dari kondisi tiap orang, misalnya mereka eksekutif di perusahaan besar gaji Rp 100 juta lebih belum sama bonus dan lain-lain dan cadangan tabungan banyak mereka mau keluar dana begitu banyak nggak masalah," papar Andy.

"Tapi jadi nggak wajar, itu misalnya ada orang yang memaksa beli dengan gaji yang nggak besar, sampai mau cicil segala," lanjutnya.

Halaman


Simak Video "Maling Sepeda Mewah di Bintaro Diciduk Polisi"
[Gambas:Video 20detik]

(fdl/fdl)