7 Industri Ini Babak Belur Dihantam Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 13:46 WIB
Produk tekstil impor dari China makin deras masuk ke Indonesia. Para pengusaha industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jabar pun mengeluh karena terancam bangkrut.
Ilustrasi/Foto: Rico Bagus
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan dari 10 sektor industri nasional tujuh di antarannya babak belur dihantam virus Corona. Sementara tiga sisanya masih selamat atau masih mampu tumbuh meskipun tipis di kuartal II-2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sebanyak 10 industri ini masuk ke dalam industri pengolahan dan industri nonmigas. Industri pengolahan di dalamnya hanya ada industri batu bara dan pengilangan migas.

"Untuk industri pengolahan pada triwulan II-2020 ini mengalami kontraksi cukup dalam, sebesar 6,19%, dan kalau dilihat yang menyebabkan kontraksi karena industri batu bara dan pengilangan migas -10,31%," kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Sementara untuk industri nonmigas secara menyeluruh terkontraksi -5,74%. Industri nonmigas ini terdapat sembilan sektor industri yang hanya tiga industri yang tumbuh positif.

"Yaitu industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, satu lagi industri logam dasar," katanya.

Jika dilihat lebih rinci lagi, industri makanan masih tumbuh 0,22% di kuartal II, sementara industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 8,65%, lalu industri logam dasar tumbuh 2,76%.

Sedangkan enam industri lainnya semua babak belur terdampak pandemi Corona. Seperti industri pengolahan tembakau -10,84%, industri tekstil dan pakaian jadi -14,23%, industri karet, barang dari karet dan plastik -11,98%.

Selanjutnya industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik -9,29%, industri mesin dan perlengkapan -13,42%, terakhir industri alat angkutan -34,29%.

"Bisa dilihat industri alat angkutan kontraksi 34,29% karena penurunan produksi mobil dan motor yang dalam, penjualannya juga turun tajam," jelasnya.

Khusus penurunan yang terjadi di industri alat angkutan, pria yang akrab disapa Kecuk ini mengatakan produksi mobil pada kuartal II-2020 mencapai 41.520 unit atau turun 87,43% dibandingkan kuartal sebelumnya, namun turun 85,02% dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Berikut pertumbuhan 10 industri:

a. Industri pengolahan:
1. industri batu bara dan pengilangan migas -10,31%

b. industri non migas
1. industri makanan masih tumbuh 0,22%
2. industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 8,65%
3. industri logam dasar tumbuh 2,76%.
4. industri pengolahan tembakau yang -10,84%
5. indsutri tekstil dan pakaian jadi -14,23%
6. industri karet, barang dari karet dan plastik -11,98%.
7. industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik -9,29%,
8. industri mesin dan perlengkapan -13,42%
9. industri alat angkutan -34,29%.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2