RI Impor Garam 3,9 Juta Ton di 2019, Ketum Inkoppas: Keterlaluan

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 14:07 WIB
Garam tak hanya bisa dihasilkan dari air laut. Di Krayan, Kalimantan Utara, yang berlokasi di dataran tinggi garam dengan kualitas baik juga dihasilkan di sana.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ketua Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Ferry Juliantono mengatakan impor garam yang cukup tinggi bisa merugikan harga garam rakyat. Hal itu terlihat dari jumlah impor garam Indonesia tahun 2019 yang menuai protes dari Gerakan Koperasi.

"Impor garam Indonesia tahun 2019 sebesar 3,9 juta ton menuai protes dari kalangan Gerakan Koperasi. Saya melihat sendiri bahwa sebenernya produksi garam nasional punya potensi yang sangat besar untuk ditingkatkan. Namun dengan impor garam yang terlalu besar, sangat merugikan harga garam rakyat," ujar Ferry dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2020).

Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi pabrik dan gudang koperasi sumber hasil Sumenep Madura. Ferry mengungkapkan pihaknya terus berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas garam nasional. Dirinya pun mengungkapkan kualitas garam impor bisa membahayakan untuk kesehatan masyarakat.

"Kami berkolaborasi untuk membangun pabrik dengan teknologi yang lebih memadai di Sampang dan membantu pemasarannya bisa diserap pasar domestik dengan harga yang baik," ungkapnya.

"Keterlaluan negara seperti Indonesia impor garam sebesar ini dan masyarakat belum disadarkan bahwa garam impor dengan Kadar NaCl yang terlalu tinggi justru membahayakan kesehatan," imbuh Ferry.

Sementara itu, Petambak Garam Karawang Aeb mendukung supaya impor garam dikurangi karena merusak harga garam rakyat.

Dalam kunjungannya, Ferry Juliantono turut didampingi oleh pengurus Induk Koperasi Garam Nasional dalam rangkaian acara kegiatan kerja sama usaha produksi dan pemasaran garam rakyat. Beberapa perwakilan koperasi petani garam dari Karawang, Indramaryu, Rembang, dan Tuban juga ikut dalam rombongan tersebut.

(prf/ara)