Dampak Isu Formalin Lebih Dahsyat Ketimbang Krisis Ekonomi

Dampak Isu Formalin Lebih Dahsyat Ketimbang Krisis Ekonomi

- detikFinance
Rabu, 04 Jan 2006 14:21 WIB
Solo - Isu penggunaan bahan pengawet mayat formalin ternyata sangat dahsyat memukul industri UKM. Saking dahsyatnya, goncangan akibat krisis ekonomi pun kalah.Berita penggunaan formalin telah memukul produksi dan pemasaran beberapa jenis makanan yang diproduksi UKM. Pukulan itu dirasakan lebih berat dibanding dampak krisis ekonomi beberapa tahun lalu. Untuk menyelamatkan UKM, Pemerintah diminta melakukan labelisasi.Produsen di sentra industri tahu di Kecamatan Kartosuro dan Nguter, keduanya di Kabupaten Sukoharjo, mengeluhkan hal tersebut. Industri rumah tangga itu mengaku sulit memasarkan produk mereka karena banyak konsumen membatasi pembelian. Bahkan tidak sedikit yang beralih mencari lauk jenis lain."Saya meneruskan usaha orangtua dan sejak dulu tidak menggunakan formalin. Sebelum ada isu formalin ini, kami bisa produksi sampai 3 kuintal. Tapi sekarang tinggal 50 persennya," kata Nursiyanti, salah satu produsen tahu di Kartasuro, Rabu (4/1/2006). "Dampak isu ini lebih berat dibanding puncak dampak krisis ekonomi beberapa tahun lalu," keluhnya.Hal serupa juga dikeluhkan Ny Bakri di Nguter, Sukoharjo. Dia terpaksa mengurangi jumlah produksi tahunya cukup drastis karena berkurangnya pembeli.Yang lebih menjengkelkannya adalah pembeli melakukan pukul rata bahwa semua tahu menggunakan formalin, sehingga sangat merugikan produsen tahu yang tidak menggunakan pengawet mayat seperti dia.Pembeli, kata Ny Bakri, biasanya menggunakan pedoman tayangan-tayangan atau berita di media massa bahwa salah satu tanda tahu berformalin adalah lebih kenyal atau lebih keras. Sedangkan produk khas tahu Nguter memang lebih kenyal dan keras dibanding produk tahu daerah lainnya, untuk memberikan rasa khas dan juga memang jauh lebih awet."Kekenyalan tahu Nguter itu karena cara pembuatannya, bukan karena tanbahan formalin ataupun boraks. Bahan yang kita gunakan adalah kedelai, air dan jantu (air hasil saringan tahu -red). Selanjutnya sengaja dipres dengan cetakan cukup berat ditambah dengan direbus sebelum dipasarkan," paparnya.Keluhan serupa juga dilontarkan oleh penjual ikan maupun produsen mi basah. Para pedagang ikan segar maupun ikan kering di sejumlah pasar tradisional di Wilayah Surakarta mengeluhkan berkurangnya pembelidalam beberapa pekan terakhir. Gara-garanya adalah masih seputar penggunaan formalin dalam proses pengawetan ikan.Para pedagang di Pasar Mojayan, Klaten misalnya, mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal mereka mendapatkan ikan segar dari waduk atau peternakan ikan di sekitar daerah tersebut. Selanjutnya proses pengawetan dilakukan dengan es batu, bukan dengan formalin."Kalau tidak ada pembeli maka ikan-ikan itu akan membusuk dan kami mengalami kerugian besar tiap harinya. Kami harap Pemerintah segera melakukan langkah-langkah cepat dan tepat untuk menyelamatkan penjual yang terkena dempak buruk dalam kasus ini," kata Daryanto, seorang penjual ikan di pasar tersebut.LabelisasiSementara itu Parimas (paguyuban perajin roti dan mie Surakarta), mendesak Pemerintah melakukan labelisasi seluruh produk mi basah yang dijual di pasaran.Langkah itu untuk melindungi produsen mi basah yang tidak menggunakan formalin. Demikian demikian produsen mi tidak bermasalah tidak menjadi korban perbuatan orang lain."Ini karena pembeli main pukul rata. Akibatnya omzet anggota Parimas anjlok hingga 70 persen," ujar Rochim, Ketua Parimas. Biasanya tiap produsen bisa memproduksi 50 bal mi dengan bahan baku 1,25 ton gandum per harinya. Sekarang hanya 10 sampai 15 bal mi. Rp 1,5 juta per hari, kini hanya tinggal Rp 400.000. "Sehingga kami sulit memenuhi biaya produksi," tambah Rochim."Produk mi basah kami dijamin bebas formalin dan proses produksinya dalam pengawasan langsung dari PT Bogasari. Mi produksi kami hanya bertahan bertahan selama 13 jam, setelah itu bentuk mi akan langsung berubah. Dengan demikian harus sekali habis dan tidak dapat distok," lanjutnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads