Ekonomi RI -5,3%, Dahlan Iskan: Artinya Hidup akan Lebih Sulit

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 07 Agu 2020 11:20 WIB
Hari pertama bekerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) mendatangi kantor Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk bersilaturahmi dan membicarakan program mengubah kondisi ibukota,  Jakarta (16/10). Mereka membeicarakan berbagai program seperti monorel, jalan layang, dan jalan tol khusus dari Bekasi ke Tanjung Priok. File/detikFoto.
Dahlan Iskan. Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Eks Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ikut berkomentar soal ekonomi Indonesia kuartal II-2020 yang minus 5,23%. Melalui tulisan berjudul 'Minus 5 Persen', dia mengartikan bahwa hidup akan lebih sulit lagi setelah ini.

"Apa arti minus 5,3% bagi kita? Artinya: Kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang sudah sulit. Lebih-lebih lagi bagi yang malas dan tidak bisa dipercaya," kata Dahlan dikutip dari disway.id, Jumat (7/8/2020).

Meski ekonomi Indonesia masih positif di triwulan I-2020, Dahlan Iskan menilai sebenarnya kondisi itu sudah sangat memprihatinkan. Namun Indonesia masih bisa berbangga karena negara lain sudah minus sejak triwulan pertama.

"Indonesia bisa saja masih merasa bangga. Baru triwulan II-2020 kali ini pertumbuhan ekonomi kita minus 5,3%. Negara lain sudah minus sejak triwulan pertama. Mereka sudah dua triwulan selalu minus: Singapura atau pun Amerika. Tapi sebenarnya itu juga sudah sangat memprihatinkan. Bagi yang mudah prihatin," tuturnya.

Dahlan menyebut pertaruhan untuk Indonesia bisa selamat dari resesi adalah di triwulan III-2020. Menurut pengamatannya, pemerintah akan semakin melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk semakin melonggarkan gerak ekonomi. Namun ancamannya adalah kasus baru semakin banyak.

"Taruhannya ada di jumlah penderita baru COVID-19. Bisa jadi jumlah penderita baru akan terus naik. Tapi sepanjang masih di bawah 2.000/hari rasanya tidak akan dianggap berat," sebutnya.

Meski negara lain telah mengalami resesi lebih dulu seperti Singapura dan Amerika Serikat (AS), Dahlan menyebut kasusnya tidak bisa disamakan dengan Indonesia. Dua negara itu dinilai lebih kaya sehingga warganya tidak akan sesulit Indonesia.

"Tentu kita tidak bisa merasa masih beruntung hanya minus 5,3%. Singapura memang minus 42% tapi itu tidak membuat Singapura sulit. Singapura sudah terlalu kaya untuk dianggap sulit. Demikian juga Amerika. Sedang kita minus 5,3% sangatlah sulit karena posisi awal kita yang masih miskin," ucap Dahlan Iskan.

Selanjutnya
Halaman
1 2