Target Pertumbuhan Industri 2005 Meleset

Target Pertumbuhan Industri 2005 Meleset

- detikFinance
Rabu, 04 Jan 2006 16:54 WIB
Jakarta - Memburuknya kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal akhir 2005 telah berimbas kepada sektor rill. Pertumbuhan industri tahun 2005 hanya tercapai 6,6 persen lebih rendah dibanding target yang ditetapkan 6,8 persen.Melesetnya target industri tahun 2005 terutama dipicu oleh jatuhnya pertumbuhan industri logam dasar, besi dan baja hingga minus 4 persen dibanding target yang ditetapkan 2,8 persen.Rata-rata target sektor industri meleset, kecuali untuk industri makanan dan minuman, serta alat angkut dan mesin peralatan yang naik di atas target semula.Demikian diungkapkan oleh Sekjen Departemen Perindustrian (Depperin) Agus Tjahayana dalam jumpa pers tentang prognosa industri tahun 2005 dan 2006 di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (4/1/2006).Menurut Agus, selama periode 2004-2009 sektor industri diharapkan tumbuh rata-rata 8,6 persen per tahun, dan untuk tahun 2005 diharapkan tumbuh 6,8 persen.Sebenarnya, ungkap Agus, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga kuartal ketiga tahun 2005 pertumbuhan industri nonmigas atau manufaktur sudah mencapai 6,76 persen.Namun perkembangan kondisi ekonomi yang memburuk pada kuartal terakhir 2005, telah memberikan tekanan yang tinggi kepada sektor industri. Hal ini terutama karena dipicu oleh kenaikan harga BBM yang membuat penurunan konsumsi dan investasi akibat melamahnya daya beli.Sektor makanan, minuman dan tembakau yang ditargetkan tumbuh 3,4 persen pada tahun 2005 terealisasi 3,8 persen. Tekstil, barang kulit dan alas kaki yang ditargetkan 4,2 persen, hanya terealisasi 1,5 persen.Industri barang kayu dan hasil hutan yang ditargetkan 1,5 persen, hanya terealisasi 0,6 persen. Kertas dan barang cetakan yang ditargetkan 7,6 persen hanya terealisasi 6,1 persen.Pupuk, kimia dan barang dari karet yang ditargetkan 8,8 persen terealisasi 8,7 persen. Sektor semen dan bahan galian nonlogam yang ditargetkan sebesar 9,6 persen tercapai 7,5 persen.Logam dasar, besi dan baja yang ditargetkan 2,8 persen realisasinya terpuruk hingga minus 4 persen.Alat angkut dan mesin peralatan yang ditargetkan 11,6 persen, terealisasi 12,5 persen. Sementara barang-barang lainnya yang ditargetkan 9,4 persen, hanya terealisasi 3,5 persen.Target 2006Untuk tahun 2006, Depperin menargetkan pertumbuhan industri mencapai 7,7 persen. Depperin optimistis target tersebut akan tercapai karena melihat sinyal recovery ekonomi di bulan Desember pascakenaikan harga BBM Oktober lalu. "Kami optimistis target 7,7 persen tercapai karena ada sinyal baik di bulan Desember, seperti terjadinya deflasi. Ini membuktikan gejolak harga BBM recovery-nya cukup cepat, sehingga pada kuartal satu 2006, sektor industri menjadi positif," papar Agus.Pada tahun 2006, Depperin akan memfokuskan pertumbuhan pada industri yang banyak menyerap tenaga kerja, industri yang kinerja ekspornya turun, dan yang memiliki potensi ekspor tinggi.Selain itu juga, Depperin akan mendorong industri yang mengolah sumber daya alam (SDA) dalam rangka mengurangi ketergantungan bahan baku impor, serta menciptakan lapangan kerja baru.Untuk tahun 2006, sektor makanan, minuman dan tembakau yang ditargetkan tumbuh 4,5 persen. Tekstil, barang kulit dan alas kaki ditargetkan tumbuh 4,3 persen.Industri barang kayu dan hasil hutan yang ditargetkan tumbuh 2,1 persen. Kertas dan barang cetakan ditargetkan 7,5 persen.Pupuk, kimia dan barang dari karet yang ditargetkan naik 9,5 persen. Sektor semen dan bahan galian nonlogam ditargetkan mencapai 8 persen.Sementara logam dasar, besi dan baja yang tahun 2005 terpuruk hingga minus 4 persen ditargetkan hanya nol persen.Alat angkut dan mesin peralatan ditargetkan naik 12,5 persen. Sementara barang-barang lainnya ditargetkan tumbuh 7,7 persen. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads