Persaingan Orang Terkaya Dunia di Bisnis Luar Angkasa

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2020 11:00 WIB
NASA astronauts Robert Behnken, left, and Douglas Hurley are seen inside the SpaceX Crew Dragon Endeavour spacecraft onboard the SpaceX GO Navigator recovery ship shortly after having landed in the Gulf of Mexico off the coast of Pensacola, Fla., Sunday, Aug. 2, 2020. The Demo-2 test flight for NASAs Commercial Crew Program was the first to deliver astronauts to the International Space Station and return them safely to Earth onboard a commercially built and operated spacecraft. Behnken and Hurley returned after spending 64 days in space. (Bill Ingalls/NASA via AP)
Foto: AP/Bill Ingalls
Jakarta -

Perusahaan teknologi milik salah satu orang terkaya dunia Elon Musk, SpaceX dan United Launch Alliance (ULA), yang merupakan perusahaan patungan Boeing dan Lockheed Martin, mendapatkan kontrak besar untuk peluncuran satelit militer di Amerika Serikat.

Hal ini mendorong perusahaan untuk mendominasi pasar peluncuran satelit keamanan nasional AS untuk tahun-tahun mendatang.

Dikutip dari CNN, Minggu (9/8/2020), pemerintah AS akan memberikan US$ 316 juta atau Rp 4,58 triliun (dalam kurs Rp 14.500) kepada SpaceX untuk sekali peluncuran satelit. Kemudian, US$ 337 juta atau sekitar Rp 4,88 triliun kepada ULA untuk dua kali peluncuran satelit.

Kesepakatan ini bisa bertambah besar, SpaceX disebut segera menangani 40% dari semua satelit keamanan nasional yang dijadwalkan selama lima hingga tujuh tahun ke depan. Sementara ULA akan menangani 60% lainnya.

Namun hingga kini belum ada info terinci soal berapa tepatnya peluncuran satelit yang akan dilakukan. Begitu pula total nilai kontraknya. Sementara itu, aparat keamanan Amerika Serikat dilaporkan secara rutin akan meluncurkan satelit mata-mata dan pesawat ruang angkasa lainnya ke orbit bumi.

SpaceX dan ULA ditunjuk sebagai penyedia layanan peluncuran untuk militer AS pada Jumat lalu. Dua perusahaan ini menghadapi persaingan lelang tender dari Blue Origin, usaha roket yang didirikan oleh orang terkaya dunia Jeff Bezos, dan Northrop Grumman, kontraktor lama pemerintah.

Sebelumnya, peluncuran roket dan satelit sendiri merupakan bisnis yang kental dengan praktek monopoli. Bahkan, SpaceX sampai harus mengajukan gugatan terhadap pemerintah federal pada tahun 2014 untuk hak bersaing. Gayung bersambut, gugatan itu dimenangkan dan mengakhiri monopoli ULA selama satu dekade.

Sementara itu, baik Blue Origin dan Northrop Grumman masih dapat bersaing untuk mendapatkan bisnis tambahan di tahap ketiga dari pemberian kontrak. Hal itu targetnya akan dilakukan pada tahun 2025.

CEO Blue Origin Bob Smith mengatakan bahwa perusahaan merasa kecewa karena tidak mendapatkan penghargaan. Meski begitu, pihaknya akan terus mengembangkan roket New Glenn untuk memenuhi kontrak komersial lainnya. Northrop Grumman juga mengatakan dalam pernyataannya bahwa mereka kecewa dengan hasilnya.



Simak Video "Saham Tesla Melejit, Elon Musk Jadi Orang Terkaya Keempat Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)