Ekonomi Kuartal III Diprediksi Minus 2%, Resesi Kian Nyata?

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 12 Agu 2020 08:30 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Potensi Indonesia masuk zona resesi kian nyata usai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 di kisaran minus 1% hingga 2%.

Namun begitu pemerintah tidak tinggal diam, Airlangga menceritakan salah satu upaya agar perekonomian nasional tumbuh di zona positif pada kuartal III tahun ini melalui anggaran belanja pemerintah. Menurut dia, di sisa waktu sampai akhir tahun pemerintah harus membelanjakan anggaran sekitar Rp 1.700 triliun lagi.

"Kalau kita lihat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi minus 5,32% dan kontraksi ini diharapkan ada recovery di kuartal III dan kuartal IV, pemerintah sendiri sudah menyiapkan anggaran yang defisitnya diperlebar sepanjang tahun ini Rp 2.700 triliun sampai Juni sudah dibelanjakan Rp 1.000 triliun, dan masih ada sekitar Rp 1.700 triliun yang perlu dibelanjakan pada kuartal III dan IV nanti," kata Airlangga dalam acara launching Collective Action Coalition Against Corruption (CAC) Indonesia secara virtual, Jakarta, Selasa (11/8/2020).

Beberapa sektor yang belanjanya tetap didorong pemerintah adalah seperti informasi dan komunikasi (infokom), pengadaan air, jasa kesehatan, hingga pertanian. Dengan beberapa upaya tersebut, Airlangga berharap ada perbaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020. Airlangga bilang tingkat konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat juga akan ditingkatkan kembali dengan melalui berbagai kebijakan, salah satunya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Apalagi, realisasi ekonomi yang minus 5,32% ini tidak sedalam dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Perancis, Inggris, Jerman, Jepang, bahkan negara berkembang lainnya seperti Brasil, Argentina, dan India.

"Diharapkan di kuartal III bisa membaik dengan prediksi minus 2%, minus 1% atau bahkan berharap bisa masuk positif. Oleh karena itu kita harus mendorong belanja pemerintah atau spending masyarakat diberi rasa nyaman dan aman agar spending bisa berjalan," ungkapnya.

Sebagai informasi, torehan ekonomi di kuartal II-2020 yang terkontraksi -5,32% menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah. Sebab jika hal serupa terjadi di kuartal III-2020 ekonomi Indonesia resmi resesi.

Resesi ekonomi terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Jadi jika ekonomi sebuah negara mengalami resesi, bisa juga dikatakan jatuh ke jurang resesi karena ini sesuatu yang mengkhawatirkan.



Simak Video "Sisa 1 Minggu Lagi Buat RI Cegah Jurang Resesi, Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/zlf)