Bayar Utang, Garuda Minta Pemerintah Berikan Bridging Loan
Kamis, 05 Jan 2006 13:38 WIB
Jakarta - PT Garuda Indonesia berharap pemerintah bisa memberikan pinjaman sejenis bridging loan (dana talangan) untuk mengatasi masalah utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo sebesar US$ 56 juta."Garuda sebetulnya mengharapkan semacam bridging loan dari pemerintah," kata Menteri Perhubungan Hatta Radjasa.Hatta mengungkapkan itu di sela acara rapat koordinasi mengenai impor beras di Gedung Departemen Keuangan (Depkeu), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (5/1/2006). Dana talangan tersebut, menurut Hatta, nantinya bisa digunakan Garuda untuk melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) utangnya. Diharapkan, jika masalah rescheduling selesai, Garuda dapat melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO).Hatta menilai, dengan dilakukannya IPO, maka Garuda akan memiliki kekuatan finansial yang dapat mengatasi persoalan keuangannya.Rencana IPO ini, ungkap Hatta, merupakan bagian dari grand strategy Garuda ke depan yang telah disampaikan ke Departemen Perhubungan."Tapi kapan dilakukan IPO tergantung dari keputusan DPR dan Meneg BUMN," kata Hatta. Selain memerlukan bridging loan, Garuda sebenarnya, kata Hatta, memerlukan modal kerja sekitar US$ 50 juta. Namun untuk masalah ini juga, harus melalui pembicaraan antara DPR dan Meneg BUMN.Hatta menilai, yang diperlukan Garuda bukan hanya dana untuk bayar utang atau modal kerja, tapi bagaimana menghadapi persaingan global.Saat ini total utang Garuda sekitar US$ 800 juta. Utang tersebut kepada kreditor European Export Credit Agency (ECA) sebanyak US$ 515 juta. Utang mandatory convertible bond (MCB) sebesar US$ 130 juta yang terdiri dari MCB Angkasa Pura I dan II sebesar US$ 34 juta dan Bank Mandiri senilai US$ 96 juta. Sisanya berupa utang promissory note sebesar US$ 130 juta.
(ir/)











































