Komisaris Pertamina Heran RKAP 2005 Sudah Dipublikasikan
Jumat, 06 Jan 2006 13:55 WIB
Jakarta -
Komisaris PT Pertamina (Persero) mengaku heran, laporan keuangan perusahaan yang terdapat dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2005 sudah dipublikasikan ke masyarakat lebih cepat dibanding biasanya.Sementara pihak Komisaris sama sekali belum mendapat laporan tentang kinerja 2005. Menurut Komisaris Utama Pertamina, Martiono Hadianto, laporan RKAP biasanya paling cepat bisa diumumkan pada Februari 2006. "Saya bicara normalnya saja itu biasanya laporan setelah triwulan baru bisa terbit, laporan biasa pun dua minggu setelah dibuat laporan dan paling cepat 10 hari, apalagi ini laporan tahunan," kata Martiono di Gedung Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Jumat (6/1/2006). Keheranan Martiono sebenarnya sangat wajar dan beralasan, karena laporan keuangan di mana pun jarang dipublikasikan pada awal tahun. Pasalnya, perusahaan menunggu laporan sampai akhir Desember yang kemudian diaudit oleh kantor akuntan, yang biasanya paling cepat menyelesaikan laporan keuangan tahunan selama satu bulan setelah tutup tahun.Mengenai kejangggalan tersebut Martiono menyarankan wartawan untuk menanyakan kepada direksi. "Saya bilang laporan itu baru terbit Februari, kalau tanya kenapa sudah keluar tanya yang ngeluarin," katanya.Ketika ditanya apakah publikasi RKAP yang lebih cepat ini, terkait dengan pelaksanaan rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 16 Januari mendatang, Martiono mengaku tidak tahu."Tapi memang sebelumnya, pihak direksi minta mundur bulan Januari, tapi saya belum tahu dan belum dikabari lagi," tuturnya.Petamina mempublikasikan RKAP 2005 pada 3 Januari lalu. Dalam laporan tersebut Pertamina meraih laba sebesar Rp 11,3 triliun sepanjang tahun 2005. Laba itu berarti 177 persen dari target tahunan yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2005 sebesar Rp 6,4 triliun.Pertamina juga berhasil menjual BBM non subsidi sebanyak 6,4 juta kilo liter (KL) atau di atas target sebesar 5,9 juta KL. Untuk BBM bersubsidi berhasil dijual sebanyak 56,4 juta KL, dari target APBN sebesar 59,6 juta KL. Laba kotor yang berhasil diraih di sektor hulu sebesar Rp 18,49 triliun atau 205,4 persen di atas target tahunan. Sedangkan di sektor hilir berhasil mencatat laba kotor sebesar Rp 5,26 triliun atau 150,3 persen di atas target tahunan dalam RKAP 2005.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































