Pakar UGM Sebut Ekonomi RI Baru Bisa Positif di Kuartal IV

Pradito Rida Pertana - detikFinance
Rabu, 26 Agu 2020 10:01 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Yogyakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32% (year on year/yoy), dibandingkan dengan capaian pada kuartal I sebesar 2,97% (yoy). Ekonomi Indonesia kemungkinan positif pada kuartal IV.

Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan negatifnya ekonomi Indonesia di tengah pandemi COVID-19 ini memang sudah diprediksi sebelumnya. Bahkan, pertumbuhan negatif juga diproyeksikan masih akan terjadi di kuartal III.

Penurunan pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh komponen PDB. Seperti halnya konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi sebesar 5,51%, sementara sektor Investasi mencatat kontraksi 8,61%.

"Kita perlu hati-hati di kuartal III, ini masih menjadi tanda tanya besar. Harapannya di kuartal IV bisa mulai positif meski tidak bisa tinggi, dengan catatan penanganan COVID-19 berjalan lebih baik," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (26/8/2020).

Terkait bahaya resesi ekonomi yang dikhawatirkan banyak pihak, Eddy menyebut jika menggunakan definisi resesi sebagai defisit perekonomian selama 2 kuartal berturut-turut maka Indonesia memang belum mengalami resesi.

Indonesia sendiri belum memiliki indeks seperti halnya The Chicago Fed National Activity Index di Amerika Serikat (AS) yang dirancang untuk mengukur aktivitas ekonomi secara umum, sehingga standar yang digunakan masih berupa defisit angka pertumbuhan ekonomi.

Namun jika resesi dipahami sebagai penurunan aktivitas ekonomi secara umum, maka Indonesia sebenarnya bisa disebut sudah memasuki resesi.

"Ada kemungkinan kita sebenarnya sudah memasuki resesi dalam artian sebenarnya," ujarnya.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi nasional sangat bergantung pada keberhasilan penanganan pandemi COVID-19. Meski aktivitas perekonomian beberapa bulan terakhir mulai kembali berjalan, namun tren jumlah kasus COVID-19 yang tidak kunjung mengalami penurunan menyebabkan banyak pelaku ekonomi masih akan menunggu perkembangan situasi.

"Kalau masih seperti ini, semua komponen ekonomi masih wait and see (menunggu dan melihat), jadi pertumbuhan akan sulit. Kalau bisa di atas nol itu sudah prestasi," ucapnya.



Simak Video "Airlangga Optimistis Tren Pertumbuhan Perekonomian Lanjut di 2022"
[Gambas:Video 20detik]