Beda Pandangan Mahfud, Sri Mulyani dan Airlangga soal Ancaman Resesi

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 30 Agu 2020 23:00 WIB
resesi ekonomi
Foto: Luthfy Syahban/Tim Infografis
Jakarta -

Resesi kini menjadi momok menakutkan yang menghantui ekonomi Indonesia. Sebagian besar pesimistis RI bisa lolos dari resesi, sebagian yakin Indonesia akan jatuh ke jurang resesi, dan ada pula yang tak memperdulikan soal resesi.

Perbedaan pandangan tentang resesi sepertinya juga terjadi di tubuh kabinet. Beberapa menteri memiliki pandangan yang berbeda tentang ancaman resesi.

Menkopolhukam Mahfud MD misalnya, baru saja mengeluarkan pernyataan terkait resesi ekonomi yang cukup menarik perhatian publik. Dia yakin Indonesia akan dilanda resesi ekonomi bulan depan. Kendati demikian, resesi itu tidak akan membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi.

Mahfud mengatakan, imbauan Pemerintah untuk hidup normal kembali dengan menyadari COVID-19 kurang efektif karena saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengenakan masker, berkerumun seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Padahal virus Corona ini sangat nyata sebagai musuh atau dapat membahayakan kehidupan sehari-hari.

"Sementara kehidupan ekonomi turun terus. Bulan depan hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia," katanya saat memberikan sambutan dalam acara temu seniman dan budayawan Yogya di Warung Bu Ageng, Jalan Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8/2020).

Namun, dia meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir. Mengingat resesi bukanlah krisis ekonomi.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati percaya asa itu masih ada. Dia menegaskan pemerintah tidak akan mengibarkan bendera putih terhadap resesi selama kuartal III-2020 belum berakhir.

"Jangan menyerah dulu, kan masih ada 1 setengah bulan, jadi kita upayakan," ujarnya di gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/8/2020).

Menurut Sri Mulyani, konsumsi masyarakat yang menjadi motor roda ekonomi RI masih bisa diharapkan. Apa lagi masyarakat sudah mulai beraktivitas di era new normal

"Kalau konsumsi bisa meningkat dengan orang mulai kegiatannya. Tadi kalau dilihat dari mobility index-nya sudah meningkat, tapi bagaimana mobility index-nya bisa diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi, itu menjadi tantangan kita semua," tuturnya.

Buka halaman selanjutnya.



Simak Video "Sri Mulyani Kembali Sabet Gelar Penghargaan Internasional"
[Gambas:Video 20detik]