Industri Baja Pulih Tahun 2006

Industri Baja Pulih Tahun 2006

- detikFinance
Kamis, 12 Jan 2006 13:43 WIB
Jakarta - Pertumbuhan industri baja yang tahun lalu terpuruk hingga minus 4 persen, diproyeksikan akan kembali normal pada tahun ini.Membaiknya industri baja domestik tahun ini, karena pengaruh diserahkannya Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) pada awal tahun oleh pemerintah pusat ke pemerintah daerah."Diturunkannya DIPA diawal tahun dan adanya proyek infrastruktur akan memperbesar pasar industri manufakatur dalam negeri khususnya baja," kata Anshari Bukhari, Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian (Depperin) di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/1/2006). Pemberian DIPA sebelumnya selalu diserahkan pada pertengahan tahun, sehingga berbagai proyek pemerintah tiap tahunnya hanya bisa dijalankan dalam waktu 5-6 bulan."Dengan diserahkan diawal tahun akan sangat signifikan dampaknya ke industri," ujar Anshari. Meski ada momentum perkembangan industri baja, Anshari mengingatkan semua pihak, agar tetap waspada terhadap serbuan baja dari Cina.Negeri tirai bambu itu, saat ini sedang mengalami kelebihan pasokan over supply, sehingga Cina menjual produksi bajanya jauh dibawah harga pasar internasional. Saat ini harga baja di pasar internasional sebesar US$ 400 per metrik ton, sedangkan Cina menjual produknya US$ 380 per metrik ton. Sementara produsen dalam negeri seperti Krakatau Steel menjualnya seharga US$ 600 per metrik ton.Untuk meredam serbuan baja Cina, Depperin akan mengaktifkan kembali penerapan SNI (Standar Nasional Indonesia), karena dicurigai baja dari Cina tidak sesuai standar sehingga harganya lebih murah.Kebutuhan baja dalam negeri mencapai 3,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi nasional hanya sebesar 2,5 juta ton per tahun, sisa kebutuhan 1 juta ton diimpor dari Cina. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads