Pak Jokowi, Sisa 2 Minggu Lagi Nggak Cukup Tahan RI Masuk Resesi

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 15 Sep 2020 17:10 WIB
Negara Masuk Resesi
Foto: Ilustrasi Negara Masuk Resesi (Mindra Purnomo/tim infografis detikcom)
Jakarta -

Ekonom menilai waktu dua minggu tidak cukup untuk menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi. Sebab pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 ini diprediksi kuat akan kembali negatif.

Sementara Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan pemerintah masih berjuang menyelamatkan ekonomi dari jurang resesi selama masih ada waktu. Dia menilai sisa waktu itu harus bisa dimanfaatkan. Tujuannya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang positif.

"Memang agak sulit untuk yang dikatakan Pak Jokowi untuk menghindari resesi, setidaknya melihat dari data-data yang ada sejauh ini," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi detikcom, Selasa (15/9/2020).

Salah satu indikator yang cukup kuat menggambarkan Indonesia akan resesi adalah indeks penjualan riil yang angkanya belum memuaskan alias masih terkontraksi.

"Padahal kalau kita tahu indeks penjualan rill ini adalah indeks yang menggambarkan permintaan produk barang dan jasa. Artinya kalau seandainya kita melihat indeks penjualan riil ini masih berada di level negatif, ternyata memang ini belum menggambarkan permintaan yang meningkat meskipun PSBB sudah dilonggarkan," jelasnya.

"Kenapa demikian? karena, satu, daya beli untuk kelompok masyarakat penghasilan menengah ke bawah itu belum pulih karena di periode Juni, Juli sampai awal Agustus itu bantuan itu kan belum sepenuhnya masuk ke kantong masyarakat kelompok ini sehingga daya belinya itu masih belum terangkatlah," sambungnya.

Lalu untuk kelompok kelas menengah ke atas, lanjut Yusuf sebenarnya mereka mempunyai uang tetapi masih menahan belanja karena isu kesehatan. Mereka takut untuk keluar misalnya pergi ke mal. Akhirnya itu berdampak terhadap indeks penjualan riil yang masih berada di level negatif.

"Padahal indeks penjualan riil ini umumnya memang dia selalu selaras dengan pertumbuhan konsumsi dalam PDB. Seperti yang kita tahu bahwa konsumsi ini kan penyumbang terbesar dalam PDB sehingga ketika konsumsi masih berada di level negatif memang agak sulit untuk mendorong perekonomian secara agregat," ujarnya.

Jadi, sekalipun ekonomi Indonesia pada kuartal III nanti bisa membaik tapi kemungkinan kuat akan tetap berada di level negatif.

"Membaik (kuartal III), tapi secara pengertian kita kan resesi 2 kuartal berturut-turut minus, tetapi secara pengertian kita sudah masuk indikasi bahwa terkena resesi," tambah Yusuf.

Langsung klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Kadin Proyeksikan Ada Tambahan 5 Juta Pengangguran di RI"
[Gambas:Video 20detik]