Ekonomi RI Tahun Ini Diprediksi Minus 1%

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2020 19:56 WIB
Poster
Ilsutrasi/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Bank Pembangunan Asia (ADB/Asian Development Bank) memperkirakan ekonomi Indonesia minus 1% pada 2020. Angka proyeksi ini lebih kecil dari yang sebelumnya dirilis pada April tahun ini yakni 2,5%.

Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein mengatakan angka ekonomi yang diproyeksikan minus 1% merupakan penurunan perekonomian Indonesia yang pertama sejak krisis keuangan Asia tahun 1997-1998.

"Meskipun memiliki fundamental makroekonomi yang kuat, Indonesia diperkirakan akan menghadapi jalur pertumbuhan yang sulit sampai dengan akhir tahun 2020, mengingat besarnya ketidakpastian dalam cakupan dan tren pandemi di Indonesia," kata Wickein dalam keterangan resmi ADB yang dikutip, Rabu (16/9/2020).

Wicklein mengatakan penurunan perekonomian Indonesia disebabkan pandemi Corona yang saat ini masih terjadi. Dia bilang konsumsi Indonesia mengalami kontraksi pada paruh pertama tahun 2020, seiring menurunnya belanja rumah tangga dan penundaan investasi dari dunia usaha.

Selain itu, permintaan terhadap ekspor Indonesia juga merosot seiring diberlakukannya karantina wilayah di seluruh dunia.

Menurut Wicklein, pemerintah Indonesia harus merespon kondisi tersebut melalui kebijakan yang mampu mengurangi dampak pandemi COVID-19, termasuk dukungan penghasilan tambahan bagi rumah tangga dan pekerja yang rentan, serta peningkatan akses kesehatan dan bantuan bagi dunia usaha.

Meski begitu, dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) 2020 Update menyebutkan pemulihan ekonomi Indonesia tahun depan akan didukung oleh perekonomian global dan reformasi domestik yang meningkatkan investasi.

"Ke depannya, prioritas kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi, disertai keseimbangan antara perlindungan nyawa dan mata pencaharian, serta memulai kembali kegiatan usaha secara aman, tetaplah penting guna memastikan pemulihan yang cepat dan inklusif," katanya.

Sementara itu, Emma Allen, Ekonom ADB untuk Indonesia mengatakan ADB memperkirakan tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia masih rendah dalam waktu dekat ini. Rendahnya konsumsi dikarenakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang masih diterapkan.

Menurut Emma, kegiatan perdagangan dan investasi pun masih rendah lantaran permintaan global dan domestik yang belum bergerak signifikan, Dia menilai, permintaan domestik yang rendah akan berdampak pada inflasi di tahun 2020.

"Di tengah ketidakpastian yang ada, risiko terhadap proyeksi ini lebih cenderung ke bawah," kata Emma.



Simak Video "Erick Thohir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pulih 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/hns)