Kondisi Darurat, Impor Beras Jalan Terus
Jumat, 13 Jan 2006 12:32 WIB
Jakarta - Pemerintah tetap akan merealisasikan rencana impor beras tahap dua. Kebutuhannya saat ini dinilai mendesak demi menekan harga beras di pasaran yang melejit belakangan ini."Sekarang ini kondisinya darurat, karena harga beras melesat cepat sekali dari hari ke hari," kata Menteri Pertanian Anton Apriantono usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (13/1/2006).Menurut Anton, keputusan impor 110 ribu ton telah diambil Presiden SBY berdasarkan rekomendasi Dewan Ketahanan Pangan (DKP) dalam rapat kabinet akhir Desember 2005.Keputusan impor dinilai sejalan dengan kesepakatan dalam rapat dengar pendapat antara pemerintah dengan Komisi VI DPR RI. Kesepakatan itu adalah, impor beras dimungkinkan untuk dilakukan dalam keadaan mendesak atau darurat.Melejitnya harga beras di pasaran, menurut Anton, bisa dikatakan sebagai indikasi dari situasi darurat atau kebutuhan yang mendesak tersebut.Kenaikan harga itu, ungkap Anton, terjadi akibat menipisnya cadangan Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam masa paceklik. Situasi itu kemudian mendorong naiknya harga gabah kering giling (GKG) yang menembus harga penjualan pemerintah (HPP).Akibat tidak punya cukup dana, Bulog akhirnya tidak mampu menyerap seluruh produksi gabah dalam negeri. Bahkan gudang milik Bulog di beberapa daerah yang tidak termasuk lumbung beras, seperti Papua dan Maluku, nyaris kosong. Nantinya impor ini dilakukan untuk mengisi gudang-gudang tersebut."Impor ini hanya untuk mengisi cadangan beras, tidak masuk beras, tapi ke gudang-gudang Bulog ke daerah yang defisit," ujar Anton yang menilai wajar penolakan beras impor dari daerah surplus beras.Batas HPPSementara hasil rapat dengan Wapres Jusuf Kalla membahas perlunya penetapan batas atas dan batas bawah HPP. Artinya, ada harga tertinggi yang bisa ditolerir pemerintah, dan ketika harganya jatuh, Bulog harus siap untuk menyerapnya.Bulog telah berkomitmen untuk menyerap minimal 10 persen dari total produksi nasional pada panen raya mendatang."Intinya adalah bagaimana saat harga jatuh bisa diselamatkan, kemudian bila harganya tinggi, konsumen tidak diberatkan," tutur Anton.
(ir/)











































