Terungkap! Modus Praktik Cuci Uang Korea Utara Lewat Bank AS

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 21 Sep 2020 09:16 WIB
bendera Korut
Ilustrasi/Foto: Internet
Jakarta -

Sebuah dokumen rahasia mengungkapkan bagaimana Korea Utara melakukan pencucian uang selama bertahun-tahun menggunakan serangkaian perusahaan cangkang dan bantuan dari perusahaan China.

Melansir CNBC, Senin (21/9/2020), menurut dokumen bank rahasia yang ditinjau oleh NBC News, mereka memindahkan uang melalui bank-bank terkemuka di New York, AS.

Dokumen tersebut mencakup periode dari 2008 hingga 2017, di mana pemerintahan Obama dan Trump terus memperketat sanksi terhadap Korea Utara untuk mencegah rezim membangun senjata nuklir dan persenjataan rudal balistiknya.

Terungkap dalam dokumen rahasia, pencucian uang dilakukan dengan transfer dari perusahaan yang terkait dengan Korea Utara dengan kepemilikan yang tidak jelas. Biasanya jumlah yang ditransfer dalam angka bulat tanpa alasan komersial yang jelas untuk transaksi tersebut.

Graham Barrow, pakar anti pencucian uang yang berbasis di London mengatakan jenis transaksi ini adalah 'bendera merah' dan merupakan ciri khas dari upaya untuk menyembunyikan asal usul uang tunai ilegal.

Pencucian yang dicurigai oleh organisasi terkait Korea Utara berjumlah lebih dari US$ 174,8 juta selama beberapa tahun, dengan transaksi yang diselesaikan melalui bank-bank AS, termasuk JPMorgan dan Bank of New York Mellon.

"Secara keseluruhan, Anda benar-benar memiliki apa yang, sejujurnya, tampak seperti serangan bersama oleh Korea Utara untuk mengakses sistem keuangan AS dalam jangka waktu yang lama melalui berbagai jalan berbeda dengan cara yang cukup canggih," kata Eric Lorber, seorang mantan pejabat di Departemen Keuangan yang menangani sanksi Korea Utara di bawah pemerintahan Trump.

Dokumen yang bocor adalah bagian dari File FinCEN, sebuah proyek kolaborasi dengan Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional, BuzzFeed News, NBC News, dan lebih dari 400 jurnalis di seluruh dunia, memeriksa cache dari laporan rahasia aktivitas mencurigakan yang diajukan oleh bank ke Departemen Keuangan.

Dalam satu kasus, dokumen bank menyampaikan dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya bagaimana kepala sebuah perusahaan di Dandong, sebuah kota China di perbatasan Korea Utara, melakukan pencucian uang secara nyata bahkan ketika dia tidak merahasiakan urusan bisnisnya dengan Korea Utara.

Otoritas AS pada 2016 dan 2019 mendakwa Ma Xiaohong, perusahaannya, Dandong Hongxiang Industrial Development Corp., dan eksekutif lain di perusahaan tersebut atas pencucian uang dan membantu Korea Utara menghindari sanksi internasional.

Sebelum dakwaan itu, Ma dan Dandong Hongxiang mengalihkan uang melalui China, Singapura, Kamboja, AS, dan tempat lain ke Korea Utara, menggunakan serangkaian perusahaan cangkang untuk memindahkan puluhan juta dolar melalui bank AS di New York berdasarkan aktivitas yang mencurigakan.

Menurut dokumen tersebut, bank tersebut melaporkan pada tahun 2015 bahwa pihaknya menangani transfer mencurigakan sebesar US$ 85,6 juta, dan dokumen tersebut merinci US$ 20,1 juta dari transaksi tersebut. Bank menulis bahwa mereka diminta untuk menyisir catatannya karena penyelidikan pemerintah.

Bank mengutip 'bendera merah' dalam transaksi tersebut, termasuk uang yang masuk ke perusahaan dengan kepemilikan yang tidak jelas yang tampaknya merupakan perusahaan cangkang.

Beberapa perusahaan terdaftar di yurisdiksi berisiko tinggi seperti Kamboja. Beberapa transfer dikirim dalam batch, hanya selang hari dan beberapa pada hari yang sama. Bank juga mencatat bahwa tidak ada alasan yang jelas untuk transaksi tersebut dan jumlahnya bulat.

Satu transaksi pada tahun 2009 menampilkan perusahaan pelayaran Singapura bernama United Green PTE Ltd., yang direkturnya termasuk Leonard Lai. Departemen Keuangan kemudian menjatuhkan sanksi pada 2015 terhadap Lai dan perusahaan Singapura-nya, Senat Shipping Ltd, atas hubungan mereka dengan perusahaan pelayaran Korea Utara yang diduga mencoba memindahkan senjata dari Kuba ke Korea Utara. Sanksi masih berlaku. Senat dan Lai tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.



Simak Video "Mengintip Ryugyong yang Dijuluki 'Hotel Malapetaka' di Korea Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)