Resesi Makin Dekat! Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Kuartal III Negatif

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 11:26 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan ekonomi Indonesia minus 2,9-1,0%. Perkiraan ini tertera dalam APBN KiTa yang dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sri Mulyani menjelaskan pandemi virus Corona memang membuat ekonomi seluruh negara, termasuk Indonesia mengalami tekanan. Defisit di hampir seluruh negara mengalami pelebaran yang cukup signifikan.

"Negara lain yang defisit relatif kecil India 7,2% defisitnya, itu pun masih alami kontraksi ekonomi. Meksiko defisitnya 5% dan kontraksi ekonomi 18%, di Q3 masih double digit," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (22/9/2020).

"Negara dI ASEAN, Malaysia defisit 6,5% dan ekonomi kontraksi di 17% dan kuartal depan masih negatif. Thailand defisit 6% dan saya sampaikan kontraksi ekonomi 12% dan Q3 masih kontraksi 9%, Filipina juga defisit 7,6% ekonominya kontraksi," jelasnya.

Sedangkan untuk Indonesia, kata Sri Mulyani mengalami pelebaran defisit hingga 6,3 dari produk domestik bruto (PDB).

"Bagaimana dengan Indonesia? mengalami pelebaran defisit ke 6,3% dari yang tadinya di 1,76% dan defisit kita dengan 6,3% di Q2 kontraksi 5,3%, jadi saya ingin sampaikan APBN semua negara alami tekanan berat, karena melakukan countercyclical karena kondisi ekonomi sedang tekanan," jelasnya.

"Kemenkeu lakukan revisi forcecast, sebelumnya untuk tahun ini minus 1,1 hingga positif 0,2. Yang terbaru minus 1,7 sampai minus 0,6. Ini artinya negatif teritory terjadi pada Q3 dan kemungkinan masih berlangsung pada Q4 yang kita berusaha mendekati nol atau positif," sambungnya.

Jika proyeksi ekonomi di kuartal III-2020 benar negatif, maka Indonesia juga masuk ke dalam jurang resesi ekonomi. Sebab pada kuartal II kemarin ekonomi Indonesia tercatat minus -5,3%.

(fdl/fdl)