Pembelian Beras Petani oleh Bulog Masih Tersendat
Jumat, 13 Jan 2006 17:27 WIB
Jakarta -
Pembelian beras petani oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) hingga kini masih tersendat-sendat. Dari target yang seharusnya 21.915 ton, Bulog baru bisa menyerap 4.250 ton.Bulog beralasan, lambatnya penyerapan beras lokal karena harga pokok pembelian (HPP) beras saat ini sudah sangat tinggi, di atas Rp 3.550 per kilogram. Akibatnya, petani lebih memilih menjual berasnya ke pasar ketimbang ke Bulog. "Baru 4.250 ton, sebagian besar sebanyak 2.400 ton dari Sulawesi, sedangkan kontrak dari daerah lain mundur," kata Dirut Bulog, Widjanarko Puspoyo, saat dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (13/1/2005).Widjanarko mengaku, pihaknya tidak bisa apa-apa menghadapi kondisi ini, karena memang sulit mencari beras lokal dengan harga yang dipatok HPP. "Ke mana tuh stok yang dulu dijanjikan, kemana tuh HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan pengamat," keluh Widjanarko.Turunnya penyerapan ini, mengakibatkan Bulog sulit mencapai stok satu juta ton dengan jumlah impor 110 ribu ton.Widjanarko juga menegaskan, Bulog tidak akan minta penambahan jumlah kuota lagi. "Yang sudah ada izinnya saja kita kesulitan," tambah Wijanarko.
(qom/)










































