4 Negara Ini Diprediksi Kebal Resesi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 18:00 WIB
Poster
Ilustrasi/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Negara di dunia satu per satu jatuh ke jurang resesi akibat dampak pandemi virus Corona (COVID-19). Namun tidak semua negara lho, masih ada beberapa negara yang diprediksi bisa bertahan dan selamat dari resesi.

Meskipun ekonominya mengalami kontraksi, negara ini tidak masuk kategori resesi karena ekonominya belum minus dua kuartal berturut-turut.

Dilansir CNNIndonesia, Selasa (22/9/2020), berikut negara yang diprediksi kebal dari resesi:

1. China

Pada kuartal I-2020 ekonomi China mengalami kontraksi hingga 6,8% dan merupakan terendah sejak berakhirnya revolusi kebudayaan negeri ginseng pada 1976. Namun kuartal II-2020, perekonomian mereka kembali rebound dan mampu tumbuh hingga 3,2%.

The Economist menyebut China sebagai satu-satunya negara besar yang akan melakukan ekspansi pada tahun 2020. Sementara negara besar lainnya seperti Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan, diperkirakan akan kembali menghadapi koreksi ekonomi hingga akhir tahun meskipun tak akan sedalam yang diperkirakan.

2. Vietnam

Kesuksesan Vietnam mengendalikan penyebaran virus Corona diyakini dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya di jalur positif.

Pada kuartal II-2020, ekonomi Vietnam masih mampu tumbuh 0,36% meski menjadi yang terendah sejak pencatatan kuartalan dimulai di negara tersebut 30 tahun lalu.

3. Turkmenistan

Pada kuartal II-2020, negara tersebut masih mencatat pertumbuhan ekonomi. PDB di Turkmenistan diperkirakan akan mencapai US$ 40,50 miliar pada akhir tahun 2020. Dalam jangka panjang, PDB Turkmenistan diproyeksikan akan berada pada tren sekitar US$ 41,50 miliar pada 2021.

Hingga saat ini, pertumbuhan positif yang diraih negara tersebut berkat masih nihilnya kasus COVID-19. Hal ini membuat aktivitas ekonomi berjalan seperti biasa dan tak terpengaruh pembatasan sosial.

4. Pakistan

Kementerian Keuangan Pakistan melaporkan siklus kontraksi ekonomi selama enam bulan akan segera berakhir dan pertumbuhan ekonomi akan mulai positif pada Juli setelah melihat kenaikan inflasi dari harga produk minyak bumi.

Untuk diketahui, Pakistan tidak melaporkan angka pertumbuhan ekonomi setiap tiga bulan seperti negara lain. Namun Kementerian Keuangan mengatakan pada tahun anggaran sebelumnya, terdapat pertumbuhan kecil namun positif sekitar 1% pada kuartal pertama.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua dipercepat menjadi 2,58%, namun berubah pada kuartal ketiga menjadi sebesar 0,19% setelah pandemi COVID-19.

The Economist mencatat sepanjang tahun ini, ekonomi Pakistan terkoreksi, namun tetap berada di jalur positif, yakni sebesar 0,5%. Kementerian Keuangan Pakistan optimistis perekonomian akan tetap berada di teritori positif hingga akhir tahun.



Simak Video "Kadin Proyeksikan Ada Tambahan 5 Juta Pengangguran di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)