Sebentar Lagi Resesi, Ini yang Nggak Boleh Dilakukan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 14:06 WIB
Bantuan langsung tunai (BLT) akan diberikan kepada pegawai dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Seperti apa rinciannya?
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Ekonomi Indonesia dipastikan mengalami resesi di kuartal III-2020 ini. Hal itu melihat proyeksi ekonomi Indonesia di kuartal III-2020 yang dikeluarkan Kementerian Keuangan, yakni minus 1% sampai minus 2,9%.

Jika resesi terjadi, ada beberapa hal yang kemungkinan besar dilakukan masyarakat, namun sebenarnya tidak tepat. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad adalah menahan konsumsi untuk menghemat uang.

Menurut Tauhid, jika masyarakat menahan konsumsinya, justru pemulihan ekonomi Indonesia semakin berat. Pasalnya, konsumsi rumah tangga merupakan 'tulang punggung' dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Kalau di resesi menurut saya tetap konsumsinya nggak boleh turun, jadi tetap kebutuhan minimum nggak boleh kurang. Jadi justru ketika ada resesi kan agar ada spending tetap berjalan. Kalau semakin turun ya dia akan memperburuk pertumbuhan ekonomi, terutama dari sisi masyarakat atau rumah tangga," kata Tauhid kepada detikcom, Rabu (23/9/2020).

Begitu juga pemerintah, yang pada intinya harus mendorong masyarakat untuk konsumsi, caranya dengan memberikan bantuan sosial (Bansos), atau stimulus lain untuk mendongkrak daya beli.

"Justru peran pemerintah mendorong agar konsumsi masyarakat bisa terpenuhi, terutama di masyarakat menengah bawah. Oleh karena itu Bansos harusnya diperluas dan diperbesar. Diperluas jangkauannya, diperbesar nilainya yang signifikan, dan itu untuk membantu konsumsi. Kalau sekarang Rp 600.000 nggak ada artinya dibandingkan kebutuhan masyarakat yang dalam kondisi resesi mereka kehilangan pendapatan," papar dia.

Tauhid mengatakan, menahan konsumsi ini juga tak boleh dilakukan ketika suatu negara sudah mengalami depresi, setelah menerjang resesi yang dalam.

"Begitu juga depresi, karena Indonesia basisnya konsumsi, 58% terhadap PDB. Ya situasi begini kan tidak bisa berharap bahwa ekspor-impor dan investasi normal, ya jalannya konsumsi harus dipertahankan," tutur Tauhid.

Selanjutnya
Halaman
1 2