3 Ciri-ciri Tempat Kerja Toxic, Kantor Kamu Termasuk?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 24 Sep 2020 10:27 WIB
LONDON, ENGLAND - MARCH 15:  People work at computers in TechHub, an office space for technology start-up entrepreneurs, near the Old Street roundabout in Shoreditch which has been dubbed Silicon Roundabout due to the number of technology companies operating from the area on March 15, 2011 in London, England. Entrepreneurs using TechHub are predominantly product-oriented tech companies who rent desk space and use the fast wifi. The relatively low rental rates and proximity to media and internet companies has made the area close to the roundabout a prime location for IT firms and web entrepreneurs.  (Photo by Oli Scarff/Getty Images)
Ilustrasi Foto: Oli Scarff/Getty Images
Jakarta -

Acara ternama Amerika Serikat The Ellen DeGeneres Show yang dibawakan langsung oleh Ellen DeGeneres sendiri sempat mendapat kecaman bahwa lingkungan kerja acara tersebut buruk atau toxic.

Awal pekan ini Ellen telah menayangkan kembali acaranya dan diawali dengan kata maaf kepada semua pihak yang menjadi korban. Ellen mengatakan dirinya dan tim acara telah melakukan diskusi untuk masa depan karyawan, kantor, dan acaranya.

Perlu diketahui istilah toxic di lingkungan kerja telah ada sejak 1970-1980-an. Ketika sebuah amandemen negara melarang diskriminasi di tempat kerja berdasarkan ras, agama, dan jenis kelamin tentunya juga melindungi wanita hamil.

Selanjutnya pada 1989 ada panduan mengenai toksisitas fisik dan emosional di tempat kerja. Panduan itu mengatakan lingkungan kerja yang toxic tidak mempertimbangkan sikap,nilai, dan keyakinan. Komunikasi di tempat kerja toxic juga lebih pasif, agresif, dan defensif. Selanjutnya tempat kerja toxic dimiliki oleh perusahaan yang tidak transparan.

Dikutip dari CNBC, Kamis (24/9/2020) ada beberapa karakteristik dalam mengetahui apakah lingkungan kerja Anda toxic atau tidak. Berikut ini karakteristik utama yang menonjol:

1. Kurangnya rasa hormat

Penasihat Hukum dan Diretur Futures Without Violence Linda Seabrook, menjelaskan tempat kerja toxic yakni tidak adanya rasa aman dan dihormati. Seabook jika rasa dihormati kurang dirasakan setidak pekerja memiliki hak berbicara, didengar, dan dihargai.

Sebagai contoh, majalah asal New York Bon Appetit dikecam oleh karyawannya bahwa karyawan kulit putih lebih banyak mendapatkan gaji dan tampil di tv dibandingkan karyawan non-kulit putih. Setelah memasuki tahap penyelidikan gaji yang didapat semua karyawan sangat adil.

Namun, menurut Direktur Penelitian Pendidikan Ketenagakerjaan AS Kate Bronfenbrenner, mengatakan alasan karyawan non-kulit putih angkat bicara bukan perihal uang. Tetapi soal kesehatan, keamanan, rasa hormat, dan martabat di dalam lingkungan kerja.

2. Keadilan dalam menyelesaikan masalah

Asisten profesor hukum University of New York School of Law and the co-founder of Survivors Know Ana Avendano mengatakan perusahaan yang toxic yakni membuat pekerja tidak memiliki hak untuk menyampaikan kekhawatirannya jika memiliki masalah.

"Tidak diizinkan untuk mengeluh. Jika mengeluh, keluhan itu akan diabaikan atau pekerja diberikan sanksi," ujar Avendano.

Profesor di Monmouth University Alan Cavaiola, mengatakan jika terjadi masalah di perusahaan, petinggi perusahaan cenderung menawarkan penyelesaian dengan arbitrase. Maksud arbitrase penyelesaian masalah secara internal. Hal itu kemungkinan merugikan karyawan.

Cavaiola menyarankan jika kasus yang ditemukan menyangkut kepentingan orang banyak, seharusnya diselesaikan di pengadilan. Seperti kasus pelecehan seksual.

Seperti yang sempat dilakukan oleh berbagai raksasa teknologi dunia Google, Facebook, dan Microsoft. Kini secara berurutan raksasa teknologi itu telah mengakhiri arbitrase masing-masing berhenti pada 2019, 2018, dn 2017.

3. Ketidakseimbangan kekuatan

Banyak ahli mengatakan ketidakseimbangan kekuatan di tempat kerja menjadi tanda tempat kerja yang toxic.

Direktur Komunikasi Service Employees International Union menjelaskan definisi tempat kerja toxic ialah tempat di mana petinggi perusahaan menggunakan kekuasaannya untuk memanfaatkan dan menyalahgunakan pekerjanya.

Tempat kerja toxic bukan hanya diperlukan perubahan dari atasan tetapi dari semu pihak di perusahaan. Seluruh pihak harus bisa menghargai, kesetaraan ras, agama, dan orientasi seksual.

Sebagai petinggi perusahaan harus ada ketegasan kepada calon karyawan yang akan bekerja. Ketegasan itu meliputi hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama bekerja.

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Ketegasan perusahaan bisa dilakukan saat interview. Calon karyawan diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan.

Di antaranya pertanyaan mengenai harapan di tempat kerja, apa saja yang dibutuhkan, tujuan bekerja, misi dan visi, taget dalam jangka pendek jika diterima, apakah bisa berkomitmen dalam bekerja, dan lain sebagainya.



Simak Video "KuTips: WFH Bebas Pegal, Coba Posisi Duduk Ini Yuk!"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)