BUMN China Dominasi Perusahaan Terbaik Dunia, RI Bisa Nggak Ya?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 25 Sep 2020 11:31 WIB
China baru saja menyelesaikan jembatan berlantai kaca terpanjang di dunia yang terletak di Lianjiang, Provinsi Guangdong. Begini penampakannya.
Ilustrasi Foto: dok. Designboom
Jakarta -

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menjelaskan badan usaha milik negara (BUMN) China saat ini menguasai daftar 500 besar perusahaan dunia versi majalah Fortune atau Fortune 500.

Dirinya menjelaskan upaya yang dilakukan China dalam membesarkan perusahaan negaranya dapat ditiru oleh Indonesia. Pertama adalah efisiensi yang dilakukan BUMN China melalui lembaga pengelola BUMN di China yaitu State Asset Supervision and Administration Commission (SASAC).

"Jadi saya kira sejak mereka melakukan fase kelima perubahan-perubahan BUMN di era tahun 2012 sampai dengan saat ini, mereka telah banyak melakukan upaya-upaya efisiensi misalnya SASAC melakukan penggabungan lebih dari sekitar 20 perusahaan BUMN sehingga BUMN yang ada jumlahnya semakin lebih sedikit," kata dia dalam webinar KPPU, Jumat (25/9/2020).

Kemudian, BUMN-BUMN di China benar-benar fokus sesuai fungsinya. Bagi BUMN yang berorientasi pada profit fokus untuk mengejar keuntungan, sementara BUMN yang ditugaskan untuk pelayanan publik terus berupaya memberi pelayanan yang baik buat masyarakat.

Peran pemerintah dalam hal ini pun menjadi penting. Apa yang dilakukan China adalah mengurangi dukungan terhadap BUMN yang berorientasi pada profit dan mengalihkannya pada BUMN yang berorientasi pada pelayanan publik.

"Dan dalam konteks ini kemudian banyak sekali upaya yang telah dilakukan supaya dukungan-dukungan pemerintah kepada yang komersial profit oriented itu lebih dikurangi, kemudian pemerintah lebih banyak memberikan fokus perhatian kepada BUMN yang memberikan pelayanan publik," lanjutnya.

Atas upaya yang dilakukan, BUMN China berhasil menjadi pemain global, bahkan sudah banyak yang melantai di bursa saham luar negeri.

"Mereka berkembang menjadi para global players ya, sebagian juga sudah listed banyak di bursa dunia, di New York dan di tempat-tempat lain sehingga akhirnya mereka berkembang menjadi multinational company," tambahnya.

(toy/ang)