Uji Formalin, Eh...Mendag Malah Dicurhatin Soal Beras
Sabtu, 14 Jan 2006 16:08 WIB
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu melakukan uji formalin di Hipermarket Carrefour Lebak Bulus. Namun forum dialog dengan konsumen justru dimanfaatkan menjadi ajang curhat soal beras. Soal formalin pun lewat. Weleh..weleh...Uji formalin tersebut dilakukan Mari usai melakukan dialog dengan para anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) di halaman Carrefour Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (14/1/2006) siang.Mari melakukan uji formalin atas produk tahu, mie dan bakso yang dijual oleh Carrefour. Tes..tes.. dan hasilnya pun nihil. Tak ada formalin di tiga produk itu. Mari pun akhirnya melahap tahu goreng plus kecap yang disediakannya. "Ini makanan kesukaan saya," ujar Mari dengan tersenyum. Bakso plus mie kuning pun tidak dilewatkan Mari. Usai menyantap bakso, Mari melakukan dialog dengan para konsumen. Dalam kesempatan itu, Mari mengatakan bahwa seharusnya pola pikir masyarakat diubah. "Semua produk jangan takut mengandung formalin. Tapi perlu waspada dan kami juga melakukan pengawasan dan pengujian di tempat-tempat tertentu. Selama ada pengawasan berkala, konsumen akan aman," pesannya. Berdasarkan data yang diperoleh, sejak pengujian pada September-Januari 2005, temuan penggunaan formalin pada bahan makanan menurun drastis. Secara umum, memasuki minggu kedua Januari 2006, uji yang dilakukan BPOM di pasar tradisional, dari 37 sampel mie basah, yang mengandung formalin tinggal 8 persen. Dan dari 40 sampel tahu tinggal 5 persen. Usai memberi penjelasan, tiba waktunya berdialog. Seorang pria berumur 40 tahunan mengeluhkan mahalnya harga beras. Menjawab pertanyaan konsumen tersebut, Mari mengatakan bahwa harga beras mahal karena bulan Januari belum panen raya. "Begitu masuk Februari, itu mulai panen raya dan harga akan turun. Tapi kita juga melakukan oepasi pasar di beberapa pasar tradisional. Ke depan akan diusahakan harga beras di sekitar Rp 4.000/kg," janji Mari.Pria berkemeja coklat itu pun bertanya lagi mengapa harga beras bisa sampai Rp 5.000/kg. Marie pun menjawab bahwa memang harga beras berbeda-beda kelasnya. Usai berdialog, Mari pun beranjak. Saat didesak wartawan untuk meninjau harga beras, Mari tampaknya tidak bersedia dan langsung menuju ke lantai 3, untuk melakukan perjamuan dengan para anggota Aprindo.
(qom/)











































